Atasi Tantangan Disrupsi Media, Prabu Revolusi Tawarkan Rumus Pentahelix
Kamis, 16 September 2021 - 14:27 WIB
loading...
A
A
A
Pemerintah Australia misalnya, yang mendorong para perusahaan raksasa dibidang teknologi digital seperti Google, Facebook dan sebagainya agar memberikan 'upah' yang sangat layak kepada portal berita online atas kegiatan jurnalistik yang dilakukan. Hal ini karena pemangku kebijakan di Negeri Kanguru tersebut menyadari betul bahwa media adalah pilar penting dalam kehidupan demokrasi.
Contoh lain adalah China. Walaupun kebebasan berekspresi adalah hal yang tabu di Negara Komunis tersebut, namun pemerintah China justru membuat aplikasi digital bernama 'Toutiao' yang menjadi wadah khusus bagi orang-orang di Negeri Tirai Bambu tersebut dalam mengakses berita.
Baca juga: Gunung Singgalang, Favorit Pendaki yang Melegenda karena Ilmu Silat Harimau
Toutiao lantas menjadi sebuah bisnis media digital yang menghasilkan dengan 240 juta pengguna yang mengakses aplikasi tersebut setiap bulannya. Itu berarti rata-rata setiap user menghabiskan waktu selama 76 menit untuk berselancar di aplikasi tersebut.
Ungkap Rumus Pentahelix
Sebagai praktisi kawakan yang juga sekaligus akademisi dari dunia penyiaran khususnya media digital, Prabu Revolusi lantas mengemukakan masalah yang dihadapi oleh lembaga penyiaran saat ini yakni adanya disrupsi media.
Contoh lain adalah China. Walaupun kebebasan berekspresi adalah hal yang tabu di Negara Komunis tersebut, namun pemerintah China justru membuat aplikasi digital bernama 'Toutiao' yang menjadi wadah khusus bagi orang-orang di Negeri Tirai Bambu tersebut dalam mengakses berita.
Baca juga: Gunung Singgalang, Favorit Pendaki yang Melegenda karena Ilmu Silat Harimau
Toutiao lantas menjadi sebuah bisnis media digital yang menghasilkan dengan 240 juta pengguna yang mengakses aplikasi tersebut setiap bulannya. Itu berarti rata-rata setiap user menghabiskan waktu selama 76 menit untuk berselancar di aplikasi tersebut.
Ungkap Rumus Pentahelix
Sebagai praktisi kawakan yang juga sekaligus akademisi dari dunia penyiaran khususnya media digital, Prabu Revolusi lantas mengemukakan masalah yang dihadapi oleh lembaga penyiaran saat ini yakni adanya disrupsi media.
Lihat Juga :