Pemberlakuan PPKM Pengaruhi Pola Pembelian Makanan Masyarakat
Selasa, 19 Oktober 2021 - 00:43 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Dr. Ray Wagiu Basrowi, 69% responden setuju jika membeli makanan online melalui aplikasi adalah bentuk menghargai diri sendiri selama pandemi dan bukan semata-mata kegiatan pemenuhan gizi saja.
Ketika dikaitkan dengan perasaan jenuh bekerja dari rumah yang dialami para responden yang juga rata-rata pekerja, 70% responden mengatasi jenuh dengan memesan makanan online.
Tak hanya itu, terdapat sekitar 45% responden dikategorikan secara impulsif membeli makanan secara online murni untuk mengatasi stres dan kejenuhan akibat work from home dan harus beraktivitas di rumah saja.
Penelitian ini, kata Dr. Ray Basrowi, membuktikan bahwa ada aspek multidimensi selama pandemi yang terjadi pada perilaku sederhana, seperti membeli dan mengonsumsi makananan.
"Adanya tuntutan untuk tinggal dan beraktivitas di rumah saja memberi dampak disruptif dalam perubahan perilaku memproses dan membeli makanan, yang bergeser dari sekadar menyiapkan santapan menjadi potensi coping stress bahkan konsekuensi jangka panjang bisa berakibat pada kesehatan," papar Dr. Ray Baswori dalam konferensi virtual Zoom, Senin (18/10/2021).
Penelitian ini menunjukkan jika kelompok pekerja berpenghasilan rendah menjadi kelompok paling banyak mengakses pemesanan makanan secara online. Sebanyak 67% responden yang aktif membeli makanan secara online melalui aplikasi merupakan kalangan pekerja dengan sosio ekonomi kategori penghasilan di bawah Rp5 juta per bulan. Dengan alasan akses beli makanan online dinilai lebih hemat.
Ketika dikaitkan dengan perasaan jenuh bekerja dari rumah yang dialami para responden yang juga rata-rata pekerja, 70% responden mengatasi jenuh dengan memesan makanan online.
Tak hanya itu, terdapat sekitar 45% responden dikategorikan secara impulsif membeli makanan secara online murni untuk mengatasi stres dan kejenuhan akibat work from home dan harus beraktivitas di rumah saja.
Penelitian ini, kata Dr. Ray Basrowi, membuktikan bahwa ada aspek multidimensi selama pandemi yang terjadi pada perilaku sederhana, seperti membeli dan mengonsumsi makananan.
"Adanya tuntutan untuk tinggal dan beraktivitas di rumah saja memberi dampak disruptif dalam perubahan perilaku memproses dan membeli makanan, yang bergeser dari sekadar menyiapkan santapan menjadi potensi coping stress bahkan konsekuensi jangka panjang bisa berakibat pada kesehatan," papar Dr. Ray Baswori dalam konferensi virtual Zoom, Senin (18/10/2021).
Penelitian ini menunjukkan jika kelompok pekerja berpenghasilan rendah menjadi kelompok paling banyak mengakses pemesanan makanan secara online. Sebanyak 67% responden yang aktif membeli makanan secara online melalui aplikasi merupakan kalangan pekerja dengan sosio ekonomi kategori penghasilan di bawah Rp5 juta per bulan. Dengan alasan akses beli makanan online dinilai lebih hemat.
Lihat Juga :