Menekan Prevalensi Perokok Perlu Regulasi dan Kampanye Persuasif
Senin, 20 Juni 2022 - 16:00 WIB
loading...
A
A
A
Selain memenuhi kedua elemen tersebut, Satria meneruskan, sebuah regulasi juga harus melibatkan publik dalam proses pembuatannya. Selain itu, naskah akademik juga dapat dipresentasikan dalam format infografis agar masyarakat mudah memahaminya.
"Jadi sebelum didebatkan begitu, publik harus menerima jaring pendapat dari perumus kebijakan yang terlibat dalam pembuatan regulasi ini," harapnya.
Kehadiran regulasi ini, lanjut dia, juga harus diimbangi dengan kampanye bersifat persuasif yang disebarkan seluas-luasnya. Badan Pusat Statistik mencatat, prevalensi perokok di Indonesia mencapai 28,96 persen pada 2021.
Baca juga: Varian BA.4 dan BA.5 Mudah Menginfeksi Tubuh, Epidemiolog Ingatkan Pentingnya Booster
Sebelumnya, Ahli Bedah Onkologi asal Spanyol, Fernando Fernandez Bueno menyebutkan, saat ini semakin banyak pakar kesehatan masyarakat yang mendukung pemanfaatan produk tembakau alternatif di kalangan perokok dewasa, demi mengurangi risiko akibat merokok.
"Jadi sebelum didebatkan begitu, publik harus menerima jaring pendapat dari perumus kebijakan yang terlibat dalam pembuatan regulasi ini," harapnya.
Kehadiran regulasi ini, lanjut dia, juga harus diimbangi dengan kampanye bersifat persuasif yang disebarkan seluas-luasnya. Badan Pusat Statistik mencatat, prevalensi perokok di Indonesia mencapai 28,96 persen pada 2021.
Baca juga: Varian BA.4 dan BA.5 Mudah Menginfeksi Tubuh, Epidemiolog Ingatkan Pentingnya Booster
Sebelumnya, Ahli Bedah Onkologi asal Spanyol, Fernando Fernandez Bueno menyebutkan, saat ini semakin banyak pakar kesehatan masyarakat yang mendukung pemanfaatan produk tembakau alternatif di kalangan perokok dewasa, demi mengurangi risiko akibat merokok.
(nug)
Lihat Juga :