GERD Bisa Disebabkan Kurang Tidur, Begini Cara Mengatasinya
Rabu, 22 Juni 2022 - 16:21 WIB
loading...
Meski tampak sepele, kurang tidur tidak bisa dibiarkan. Pasalnya, kurang tidur dapat menjadi penyebab GERD atau gastroesophageal reflux disease. Foto/Getty Images
A
A
A
JAKARTA - Meski tampak sepele, kurang tidur tidak bisa dibiarkan. Pasalnya, kurang tidur dapat menjadi penyebab GERD atau gastroesophageal reflux disease.
Benarkah anggapan itu? Bagaimana mungkin kurang tidur bisa menyebabkan penyakit asam lambung tersebut? Yuk, cari tahu kebenarannya!
Kaitan tentang kurang tidur dengan penyakit GERD telah diteliti oleh ilmuwan dari Michigan Medicine. Spesialis esofagus di Michigan Medicine dan dosen klinis di University of Michigan, Joan Chen, M.D., M.S., bersama rekan-rekannya memantau pola tidur 101 pasien dengan gejala refluks asam lambung.
Para peneliti menggunakan perangkat seperti jam tangan untuk mengukur kualitas tidur berdasarkan frekuensi gerakan lengan.
Setiap pasien juga dipasangkan kateter khusus melalui hidung yang terkoneksi ke dalam saluran pencernaan. Alat ini digunakan untuk mengukur tingkat keasaman (pH) di kerongkongan selama 24 jam. Para pasien yang mengikuti penelitian tersebut juga diminta untuk mengisi kuesioner terkait kondisi kesehatannya.
Temuan awal penelitian mengungkapkan bahwa terdapat hubungan antara kualitas tidur yang buruk dan kemungkinan mengalami refluks. Riset tersebut menemukan, kurang tidur dapat memicu gejala GERD. Sebaliknya, gejala GERD bisa membuat penderita kesulitan tidur di malam hari.
Benarkah anggapan itu? Bagaimana mungkin kurang tidur bisa menyebabkan penyakit asam lambung tersebut? Yuk, cari tahu kebenarannya!
Kaitan tentang kurang tidur dengan penyakit GERD telah diteliti oleh ilmuwan dari Michigan Medicine. Spesialis esofagus di Michigan Medicine dan dosen klinis di University of Michigan, Joan Chen, M.D., M.S., bersama rekan-rekannya memantau pola tidur 101 pasien dengan gejala refluks asam lambung.
Para peneliti menggunakan perangkat seperti jam tangan untuk mengukur kualitas tidur berdasarkan frekuensi gerakan lengan.
Setiap pasien juga dipasangkan kateter khusus melalui hidung yang terkoneksi ke dalam saluran pencernaan. Alat ini digunakan untuk mengukur tingkat keasaman (pH) di kerongkongan selama 24 jam. Para pasien yang mengikuti penelitian tersebut juga diminta untuk mengisi kuesioner terkait kondisi kesehatannya.
Temuan awal penelitian mengungkapkan bahwa terdapat hubungan antara kualitas tidur yang buruk dan kemungkinan mengalami refluks. Riset tersebut menemukan, kurang tidur dapat memicu gejala GERD. Sebaliknya, gejala GERD bisa membuat penderita kesulitan tidur di malam hari.
Lihat Juga :