Tekan Prevalensi Merokok Melalui Pendekatan Alternatif

Selasa, 30 Agustus 2022 - 15:21 WIB
loading...
Tekan Prevalensi Merokok...
Perlu dilakukan riset untuk memperoleh bukti-bukti penyebab kenapa perokok tetap membeli rokok meski harga dan cukainya tinggi. / Foto: ilustrasi/ist
A A A
JAKARTA - Pemerintah terus berupaya turunkan prevalensi merokok , salah satunya melalui strategi pendekatan ekonomi dengan menaikkan tarif cukai.

Namun, upaya tersebut dinilai masih belum cukup efektif. Pengamat Kebijakan Publik dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Satria Aji Imawan menyebutkan, pemerintah berharap konsumsi rokok menjadi turun lewat penetapan tarif cukai.

Sayangnya, kebijakan tersebut tidak cukup efektif, lantaran daya beli terhadap produk tersebut masih tetap tinggi. "Perlu adanya intervensi sosial yang dapat mengubah kebiasaan para perokok ini dengan sebuah insentif sosial ketimbang ekonomi," ujar Satria, Selasa (30/8/2022).

Baca juga: 6 Tempat Wisata di Batam yang Lagi Hits, Nomor Terakhir Cocok Banget Buat Healing

Pemerintah, lanjut dia, perlu melakukan riset untuk memperoleh bukti-bukti penyebab kenapa perokok tetap membeli rokok meski harga dan cukainya tinggi.

Hasil riset kemudian diadvokasikan kepada para pemangku kepentingan. "Pendekatan-pendekatan sosial ini penting sebagai pelengkap pendekatan ekonomi yang sering dilakukan pemerintah selama ini," sambungnya.

Strategi pengurangan jumlah perokok dapat dilakukan dengan masif dan persuasif. Masif, kata Satria, menggunakan media konvensional dan media online. Sementara persuasif lebih bersifat ringan.

"Tidak mendikte dan melibatkan banyak kreator agar kampanye bersifat mengimbau ketimbang melarang," tegasnya.

Dalam kegiatan Global Forum on Nicotine (GFN) 2022 yang belum lama ini diselenggarakan secara daring dari Warsawa, Polandia, membahas tentang produk tembakau alternatif, seperti produk tembakau dipanaskan, rokok elektrik, dan kantong nikotin, sebagai opsi bagi perokok dewasa yang kesulitan untuk berhenti dari kebiasaan merokok.

Isu tersebut menjadi pembahasan dalam tema "Misinformation: who can we trust?". Salah satu narasumber dalam diskusi tersebut, Cother Hajat, Dokter Kesehatan Masyarakat dan Ahli Epidemiologi sekaligus Anggota Royal College of Physicians dan Fakultas Kesehatan Masyarakat di Inggris.

Cother Hajat menyampaikan bahwa produk tembakau alternatif efektif dalam menurunkan prevalensi merokok. Contohnya adalah Swedia. Negara Skandinavia ini mendukung penggunaan kantong nikotin sehingga memiliki prevalensi perokok pria yang terendah di Uni Eropa dengan besaran 5 persen.

Rendahnya angka tersebut juga berkorelasi dengan sedikitnya jumlah kematian yang diakibatkan oleh konsumsi rokok pada pria usia 30 tahun atau lebih. "Swedia telah menunjukkan melalui regulasi, produk tembakau alternatif telah meminimalkan bahaya," ungkap Cother.

Baca juga: Film Until Tomorrow, Angkat Kisah Cinta Alan Tito dan Daslina Sombi yang Menginspirasi

Atas dasar itu, Cother mendorong penggunaan produk tembakau alternatif untuk membantu negara-negara yang selama ini kesulitan dalam menurunkan prevalensi merokok.
(nug)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bahaya Merokok Setelah...
Bahaya Merokok Setelah Makan, Dokter Ingatkan Dampaknya pada Pencernaan
4 Hal yang Tidak Boleh...
4 Hal yang Tidak Boleh Dilakukan setelah Makan, Salah Satunya Minum Teh
Bahaya Merokok setelah...
Bahaya Merokok setelah Makan, Ahli: Tubuh Sulit Menyerap Gizi
Viral! Paru-Paru Remaja...
Viral! Paru-Paru Remaja Pria Bocor Akibat Kebiasaan Merokok Bertahun-tahun
Apa yang Terjadi pada...
Apa yang Terjadi pada Tubuh setelah Berhenti Merokok?
Bahaya Rokok Elektrik...
Bahaya Rokok Elektrik bagi Kesehatan, Efek Candu hingga Kerusakan Paru Permanen
Akvindo: Tembakau Alternatif...
Akvindo: Tembakau Alternatif Kurangi Paparan Asap Rokok
DPR: Penambahan Layer...
DPR: Penambahan Layer Baru Cukai Rokok Buka Celah Penyalahgunaan dan Moral Hazard
Produk Tembakau Alternatif,...
Produk Tembakau Alternatif, Guru Besar Unpad: Bukan Pintu Masuk bagi Non-Perokok
Rekomendasi
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp4.000 per Gram, Simak Rinciannya
Budiman Sudjatmiko Ungkap...
Budiman Sudjatmiko Ungkap Dialog dengan Mahasiswa di UGM Gagal Terjadi: Ada Penghakiman
Said Didu ke Presiden...
Said Didu ke Presiden Prabowo: Kawan Bapak Tuh Ada di Luar, Bukan di Dalam
Berita Terkini
Mulai Tahun Depan, Grammy...
Mulai Tahun Depan, Grammy Awards Tambah Kategori Musik Pop Asia
Karina Ranau Didorong...
Karina Ranau Didorong Pria hingga Terjatuh Saat Tegur Parkir Motor
Tangan Berkeringat Disebut...
Tangan Berkeringat Disebut Tanda Jantung , Mitos atau Fakta?
Setelah Setahun Vakum,...
Setelah Setahun Vakum, D.O EXO Siap Comeback Solo Agustus 2026
Sinopsis Sinetron Terikat...
Sinopsis Sinetron 'Terikat Janji' Eps 73, Penyergapan Pecah Menjadi Baku Tembak dan Pertarungan Sengit
Dulu Dibully Karena...
Dulu Dibully Karena Pendiam, Kini Syawal Adha Raih Centang Biru TikTok dan Instagram
Infografis
Dampak Positif yang...
Dampak Positif yang Terjadi pada Tubuh setelah Berhenti Merokok
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved