Hyper-Independence, Kemandirian yang Toxic tapi Jarang Disadari

Selasa, 20 September 2022 - 14:01 WIB
loading...
Hyper-Independence,...
Hyper-independence adalah bentuk kemandirian yang berlebihan dan justru jadi hal yang negatif bahkan membahayakan. Foto/Keith Wong, Unsplash
A A A
JAKARTA - Tak sedikit dari kita yang sejak kecil sudah dilatih untuk hidup mandiri. Ya, sifat mandiri memang salah satu sifat positif yang dianggap keren bagi kebanyakan orang.

Orang yang mandiri biasanya dikagumi karena dapat melakukan dan menyelesaikan banyak hal sendirian. Namun, ternyata sifat mandiri tak selamanya baik. Sifat mandiri yang berlebihan atau hyper-independence justru menandakan bahwa kamu memiliki trauma yang belum sembuh. Nah, untuk lebih jelasnya, simak uraian berikut ini.

Apa Itu Hyper-Independence?

Menurut psikolog klinis Amy Marschall dalam laman Very Well Mind, seseorang dapat dikatakan hyper-independence bila individu tersebut berusaha untuk sepenuhnya mandiri dalam segala hal, bahkan saat dirinya dalam keadaan yang membutuhkan bantuan atau dukungan dari orang lain.

“Kamu sudah terbiasa melakukan hal-hal sendirian, merawat dirimu dengan berbagai cara, dan tak membutuhkan satu orang pun. Ini adalah salah satu mekanisme bertahan hidupmu. Dan sayangnya, banyak orang yang tak menyadari masalah ini,” jelas Mariel Buque, seorang psikolog dan ahli trauma antargenerasi melansir dari STYLIST.


Penyebab Hyper-Independence

Penelitian berjudul Relationship between attachment style and posttraumatic stress symptomatology among adults who report the experience of childhood abuse yang dilakukan Muller, Sicoli, dan Lemieux pada 2000 menyebutkan bahwa perilaku terlalu mandiri kemungkinan besar berasal dari peristiwa traumatis. Hal ini lantas mengajarkan orang tersebut untuk hanya memercayai dirinya sendiri. Jadi, mereka yang mandiri berlebihan percaya bila hanya dirinya sendirilah yang dapat membantunya menjalani hidup.

Hyper-Independence, Kemandirian yang Toxic tapi Jarang Disadari

Foto:Tadeusz Lakota/Unsplash

Sejalan dengan itu mengutipPsychCentral, konselor profesional berlisensi Joanne Frederick berpendapat bahwa seorang hyper-independence cenderung memiliki sudut pandang “aku” dibandingkan “kita”.

Sementara menurut spesialis attachment disorders bernama Michael B. Sperling dalam jurnalnya berjudul Attachment in adults: Clinical and developmental perspectives, hyper-independence adalah salah satu sifat turunan dari avoidant attachment style (menghindari hubungan dekat yang intim dan emosional).

Dalam jurnal berjudulAffective dependence: from pathological affectivity to personality disorders: definitions, clinical contexts, neurobiological profiles and clinical treatments yang disusun oleh Perrotta G pada 2021, ada beberapa hal traumatis yang dapat menyebabkan seseorang menjadi hyper-independence, di antaranya:

1. Merasa bila dirinya tidak pantas mendapat dukungan sosial
2. Diabaikan pada masa lalu, khususnya oleh orang tua/pengasuh saat masih kanak-kanak sehingga ada kebutuhan yang tidak terpenuhi. Hal ini juga berlaku bila orang tua/pengasuh tidak secara konsisten hadir dalam kehidupan masa kecilnya.
3. Memiliki trust issue pada orang terdekat akibat menjadi korban kekerasan/pelecehan sehingga mereka merasa tidak aman untuk meminta bantuan.
4. Salah satu mekanisme diri mengatasi kejadian traumatis lainnya, seperti bencana alam, kecelakaan, diskriminasi, dan lain-lain sehingga mereka berusaha mendapatkan kembali kendali atas lingkungan mereka.

Ciri-ciri Hyper-Independence

Untuk mengecek apakah kamu memiliki kecenderungan hyper-independence, berikut ini ciri-cirinya.

1. Sering Memaksakan Diri dan Terlalu Bekerja Keras

Orang yang hyper-independence biasanya terlalu bekerja keras dalam karier dan akademik mereka sampai-sampai memaksakan diri. Selain itu, sibuk bekerja juga membuat mereka tak memiliki kehidupan di luar pekerjaan karena mereka memiliki alasan untuk menolak ajakan, membatalkan janji, menyendiri, atau tak menghabiskan waktu bersama orang-orang terdekat.

Hyper-Independence, Kemandirian yang Toxic tapi Jarang Disadari

Foto:Palu Malerba/Pexels
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dari Penyidik KPK hingga...
Dari Penyidik KPK hingga Dirreskrimum Polda NTT, Jejak Karier Kombes Sigit Haryono
Saatnya Negara Memperkuat...
Saatnya Negara Memperkuat Profesi Psikolog Klinis
Anak-anak Sudah Melek...
Anak-anak Sudah Melek Digital, Negara Hadir Melindungi
Rekomendasi
Meski Sekutu Sejati,...
Meski Sekutu Sejati, Mengapa Pentagon Tingkatkan Ancaman Mata-mata Israel ke Tingkat Tertinggi?
Pramono Akan Resmikan...
Pramono Akan Resmikan CFD Rasuna Said saat HUT Jakarta, Mayoritas Warga Minta Dilanjutkan
Respons Purbaya soal...
Respons Purbaya soal Tren Sell Indonesia: Kita Tak Sedang Menuju Seperti 1998 Lagi
Berita Terkini
Tak Hanya Cantik, Audisi...
Tak Hanya Cantik, Audisi Miss Indonesia 2026 Mencari Talenta Terbaik Mulai dari Manner Impressive hingga Smart Social
Ikuti Audisi Miss Indonesia...
Ikuti Audisi Miss Indonesia 2026, Athaema Eswari Jumhur Sudah Persiapkan Sejak 2024
Geram Difitnah Somasi...
Geram Difitnah Somasi Ibu, Ratu Sofya Resmi Laporkan Produser Film ke Polda Metro Jaya
Warga Surabaya Antusias...
Warga Surabaya Antusias Ikuti Audisi Miss Indonesia 2026
Kabar Bahagia, Amanda...
Kabar Bahagia, Amanda Manopo dan Kenny Austin Umumkan Kelahiran Anak Pertama
Kris Tomahu, Gery &...
Kris Tomahu, Gery & Gany, dan Samuel Cipta Antusias Tampil di Konser Tehillim - The Heart of Worship
Infografis
10 Bendera Negara Paling...
10 Bendera Negara Paling Unik di Dunia, Ada yang Bergambar Naga
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved