Ini Lima Misinformasi Soal Vape yang Masih Kerap Muncul
Kamis, 01 Desember 2022 - 16:01 WIB
loading...
A
A
A
Adiksi pada Vape
Studi yang dilakukan Research Square LLC pada pengguna vape dan rokok di AS menunjukkan bahwa vape memiliki potensi penyalahgunaan lebih rendah daripada rokok konvensional. Tidak hanya itu, penelitian Research Square LLC juga memperlihatkan bahwa kemungkinan individu mengalami kecanduan terhadap vape jauh lebih kecil dibandingkan dengan individu yang menggunakan rokok konvensional.
Penelitian yang diterbitkan pada 2022 itu juga mendukung argumen bahwa vape terbukti lebih efektif dalam membantu mengurangi kebiasaan merokok, bahkan lebih efektif dibandingkan dengan produk seperti nikotin patch yang digunakan pada kulit dan permen karet nikotin.
Asap Vape
Mengacu dari penelitian yang dilakukan National Center for Biotechnology Information di AS menyebutkan bahwa hasil emisi vape memiliki kadar bahan kimia yang lebih sedikit ketimbang dengan asap rokok. Emisi asap rokok juga bertahan lebih lama dibandingkan dengan vape (sekitar 20-40 menit), sedangkan aerosol vape akan menghilang dalam kurun waktu kurang dari 2 menit.
Sejauh ini, menurut National Health Service UK, belum ada bukti kuat bahwa aerosol vape dapat membahayakan orang di sekitar.
Baca juga: Obesitas dan Diabetes Bisa Sebabkan Kanker Usus Besar, Ini Penjelasan Dokter
Ahli toksikologi Shoim Hidayat juga membeberkan bahwa kandungan vape lebih rendah risiko ketimbang dengan rokok konvensional. Shoim memaparkan jika kandungan TAR (Total Aerosol Residue) yang biasa ditemukan pada rokok, tidak terdapat dalam vape. Proses pemanasan yang terjadi pada vape tidak menghasilkan asap dan memiliki risiko 90 persen lebih rendah daripada rokok.
Studi yang dilakukan Research Square LLC pada pengguna vape dan rokok di AS menunjukkan bahwa vape memiliki potensi penyalahgunaan lebih rendah daripada rokok konvensional. Tidak hanya itu, penelitian Research Square LLC juga memperlihatkan bahwa kemungkinan individu mengalami kecanduan terhadap vape jauh lebih kecil dibandingkan dengan individu yang menggunakan rokok konvensional.
Penelitian yang diterbitkan pada 2022 itu juga mendukung argumen bahwa vape terbukti lebih efektif dalam membantu mengurangi kebiasaan merokok, bahkan lebih efektif dibandingkan dengan produk seperti nikotin patch yang digunakan pada kulit dan permen karet nikotin.
Asap Vape
Mengacu dari penelitian yang dilakukan National Center for Biotechnology Information di AS menyebutkan bahwa hasil emisi vape memiliki kadar bahan kimia yang lebih sedikit ketimbang dengan asap rokok. Emisi asap rokok juga bertahan lebih lama dibandingkan dengan vape (sekitar 20-40 menit), sedangkan aerosol vape akan menghilang dalam kurun waktu kurang dari 2 menit.
Sejauh ini, menurut National Health Service UK, belum ada bukti kuat bahwa aerosol vape dapat membahayakan orang di sekitar.
Baca juga: Obesitas dan Diabetes Bisa Sebabkan Kanker Usus Besar, Ini Penjelasan Dokter
Ahli toksikologi Shoim Hidayat juga membeberkan bahwa kandungan vape lebih rendah risiko ketimbang dengan rokok konvensional. Shoim memaparkan jika kandungan TAR (Total Aerosol Residue) yang biasa ditemukan pada rokok, tidak terdapat dalam vape. Proses pemanasan yang terjadi pada vape tidak menghasilkan asap dan memiliki risiko 90 persen lebih rendah daripada rokok.
(nug)
Lihat Juga :