Ini Lima Misinformasi Soal Vape yang Masih Kerap Muncul
Kamis, 01 Desember 2022 - 16:01 WIB
loading...
A
A
A
Kesalahpahaman bermula ketika remaja 17 tahun di Kanada harus dibawa ke instalasi gawat darurat sebuah rumah sakit karena sesak napas setelah menggunakan rokok elektrik. Disebutkan pula jika remaja itu sempat menggunakan likuid dengan tambahan THC. Untuk diketahui, THC (Tetrahidrocannabinol) merupakan zat psikotropika yang berasal dari tanaman ganja atau cannabis.
Padahal Food & Drugs Administration (FDA), lembaga pengawas makanan dan obat Amerika Serikat melarang penggunaan minyak THC sebagai campuran likuid untuk vaping. Begitu pula di Inggris, berdasar keterangan Cancer Research UK, Inggris melarang penggunaan diasetil, zat serupa THC, dalam campuran vape. Sampai saat ini tidak ditemukan kasus popcorn lung di Inggris.
Berpotensi Sebabkan Gagal Ginjal
Kasus gagal ginjal akut di Indonesia ditengarai disebabkan cemaran zat etilen glikol (EG) dan politetilen glikol (PEG). Beberapa pihak mengaitkan zat tersebut dengan vape, lalu menyimpulkan vape dapat menyebabkan gagal ginjal. Faktanya, adapun zat pelarut yang digunakan dalam cairan vape adalah propilen glikol (PG), bukan PEG dan EG.
Pakar toksokologi Universitas Airlangga, dr. Shoim Hidayat menjelaskan bahwa potensi vape bisa menyebabkan gagal ginjal sangat kecil. Menurutnya, PG punya tingkat bahaya yang sangat rendah, sehingga efek sampingnya tidak signifikan. Dia menambahkan PG juga umum digunakan tidak hanya untuk obat, tetapi juga makanan, kosmetik, dan keperluan industri lainnya.
Risiko Kesehatan
Perbandingan risiko antara vape dan rokok konvensional bukanlah perbincangan baru. Banyak penelitian telah dilakukan untuk memberikan bukti bahwa vape tergolong lebih rendah risiko dibandingkan rokok konvensional. Salah satunya penelitian dari Royal College of Physicians London pada 2016 yang menyatakan bahwa sejauh ini vape dinilai punya kandungan yang lebih rendah risiko karena tidak menghasilkan TAR serta tanpa zat kimia yang menyebabkan kanker.
Studi The National Academics of Science Engineering Medicine pada 2018 malah sudah membuktikan bahwa vape merupakan gerbang untuk berhenti merokok bagi orang dewasa.
Padahal Food & Drugs Administration (FDA), lembaga pengawas makanan dan obat Amerika Serikat melarang penggunaan minyak THC sebagai campuran likuid untuk vaping. Begitu pula di Inggris, berdasar keterangan Cancer Research UK, Inggris melarang penggunaan diasetil, zat serupa THC, dalam campuran vape. Sampai saat ini tidak ditemukan kasus popcorn lung di Inggris.
Berpotensi Sebabkan Gagal Ginjal
Kasus gagal ginjal akut di Indonesia ditengarai disebabkan cemaran zat etilen glikol (EG) dan politetilen glikol (PEG). Beberapa pihak mengaitkan zat tersebut dengan vape, lalu menyimpulkan vape dapat menyebabkan gagal ginjal. Faktanya, adapun zat pelarut yang digunakan dalam cairan vape adalah propilen glikol (PG), bukan PEG dan EG.
Pakar toksokologi Universitas Airlangga, dr. Shoim Hidayat menjelaskan bahwa potensi vape bisa menyebabkan gagal ginjal sangat kecil. Menurutnya, PG punya tingkat bahaya yang sangat rendah, sehingga efek sampingnya tidak signifikan. Dia menambahkan PG juga umum digunakan tidak hanya untuk obat, tetapi juga makanan, kosmetik, dan keperluan industri lainnya.
Risiko Kesehatan
Perbandingan risiko antara vape dan rokok konvensional bukanlah perbincangan baru. Banyak penelitian telah dilakukan untuk memberikan bukti bahwa vape tergolong lebih rendah risiko dibandingkan rokok konvensional. Salah satunya penelitian dari Royal College of Physicians London pada 2016 yang menyatakan bahwa sejauh ini vape dinilai punya kandungan yang lebih rendah risiko karena tidak menghasilkan TAR serta tanpa zat kimia yang menyebabkan kanker.
Studi The National Academics of Science Engineering Medicine pada 2018 malah sudah membuktikan bahwa vape merupakan gerbang untuk berhenti merokok bagi orang dewasa.
Lihat Juga :