Menikmati Lembutnya Daging Kepala Manyung Ala Eks Suporter PSIS
Senin, 30 Mei 2016 - 06:30 WIB
Menikmati Lembutnya Daging Kepala Manyung Ala Eks Suporter PSIS
A
A
A
SEMARANG - Nama Edy Purwanto alias Edy Snex sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Kota Semarang, apalagi di kalangan pendukung PSIS Semarang. Pria yang pernah menjadi ketua Suporter Semarang Extrem (Snex) ini, saat ini memang sudah tidak lagi turun ke lapangan untuk memimpin ribuan suporter untuk mendukung PSIS Semarang dalam setiap pertandingan.
Kini Edy yang pernah menjadi anggota DPRD Kota Semarang ini fokus ke bisnis kuliner yang baru dirintisnya pada akhir tahun 2015 lalu. Bisnis kuliner yang dilakoni Edy adalah warung makan khas kepala manyung.
Meski baru merintis pada 30 Desember 2015, namun saat ini sudah memiliki empat cabang, yakni di Jalan Setiabudi, Srondol Banyumanik, di kawasan Tembalang, kemudian di Sekaran Gunungpati dan di Ungaran Kabupaten Semarang.
Edy mengaku, mengawali bisnis kuliner ini tanpa adanya pengalaman. Dia hanya bermodal hobi memasak bersama istrinya. “Kebetulan saya sama istri suka memasak, dan sering mengotak-atik masakan,” cerita Edy beberapa waktu lalu.

Warung pertamanya dibuka di kawasan kampus Undip Tembalang dan diberi nama Warung Kepala Manyung Mas Edy. Hal itu dilakukannya karena ingin menyasar pasar mahasiswa. Namun, dalam praktiknya, pelanggannya tidak hanya mahasiswa namun juga masyarakat umum.
“Awalnya saya berpikir, sekarang ini masyarakat maunya yang serba praktis dan cepat. Orang sudah tidak sempat memasak karena kesibukan. Oleh karena itu saya membuka warung makan,” ujarnya.
Edy mengaku, meski mengusung tema kepala manyung, namun berbeda dengan warung kepala manyung yang lainnya. Dengan sajian masakan yang berbeda ini membuat warung kepala Manyung Mas Edy selalu kebanjiran konsumen, terlebih di saat jam makan siang dan makan malam. Daging kepala manyung yang lembut dengan kuah yang pedas namun “seger” membuat banyak orang ketagihan.
“Sengaja menyajikan menu kepala manyung berbeda dari yang lain, karena ingin memberikan sensasi berbeda bagi penikmati kuliner kepala manyung,” ucapnya.
Menu olahan oseng kepala manyung Mas Edy memang sangat spesial. Kepala manyung dipilih yang terbaik. Untuk mendapatkan kepala manyung yang berkualitas harus mendatangkan dari sentra pengasapan ikan dari Semarang, Demak dan Kendal.

Bumbunya pun penuh dengan rempah-rempah seprti bawang merah, bawang putih, kencur, laos, Jahe, sere, daun jeruk, mrica kemiri, termasuk gula dan garam. “Kita sengaja menggunakan rempah-rempah yang cukup banyak karena memang supaya memiliki cita rasa yang berbeda dari bisanya,” tutur dia.
Oseng kepala manyung di warung Edy ada beberapa ukuran, mulai dari jumbo, besar, sedang dan kecil. Harganya pun berbeda mulai dari Rp15.000—60.000 per porsinya.
Selain, menyediakan menu khas oseng-oseng kepala Manyung, warung ini juga menyediakan menu lain seperti sup ikan daun kedondong dan masakan laut lainnya.

Meski sudah menekuni bisnis kuliner, Edy yang menjadi salah satu pendiri Snex ini tidak lantas melupakan saudara-saudaranya di Snex. Dia tetap memberikan dukungan kepada PSIS, bersama suporter Snex.
Edy pun mengajak rekan-rekannya untuk menjadi karyawan di empat warungnya. Setidaknya ada 16 anggota Snex yang dia berdayakan untuk menjadi karyawan.
Menjadikan anggota Snex karyawan bukanlah perkara mudah apalagi tidak banyak yang memiliki pengalaman memasak. Oleh karena itu Edy pun dengan tekun mengajari mereka. Dengan diajari memasak harapannya ke depan mereka bisa membuka usaha sendiri secara mandiri.
“Melalui warung makan ini saya juga ingin mengajak teman-teman Snex untuk berwirausaha, supaya bisa mandiri. Mendukung tim secara militan boleh, tapi juga perlu memikirkan masa depan,” katanya.
Kini Edy yang pernah menjadi anggota DPRD Kota Semarang ini fokus ke bisnis kuliner yang baru dirintisnya pada akhir tahun 2015 lalu. Bisnis kuliner yang dilakoni Edy adalah warung makan khas kepala manyung.
Meski baru merintis pada 30 Desember 2015, namun saat ini sudah memiliki empat cabang, yakni di Jalan Setiabudi, Srondol Banyumanik, di kawasan Tembalang, kemudian di Sekaran Gunungpati dan di Ungaran Kabupaten Semarang.
Edy mengaku, mengawali bisnis kuliner ini tanpa adanya pengalaman. Dia hanya bermodal hobi memasak bersama istrinya. “Kebetulan saya sama istri suka memasak, dan sering mengotak-atik masakan,” cerita Edy beberapa waktu lalu.

Warung pertamanya dibuka di kawasan kampus Undip Tembalang dan diberi nama Warung Kepala Manyung Mas Edy. Hal itu dilakukannya karena ingin menyasar pasar mahasiswa. Namun, dalam praktiknya, pelanggannya tidak hanya mahasiswa namun juga masyarakat umum.
“Awalnya saya berpikir, sekarang ini masyarakat maunya yang serba praktis dan cepat. Orang sudah tidak sempat memasak karena kesibukan. Oleh karena itu saya membuka warung makan,” ujarnya.
Edy mengaku, meski mengusung tema kepala manyung, namun berbeda dengan warung kepala manyung yang lainnya. Dengan sajian masakan yang berbeda ini membuat warung kepala Manyung Mas Edy selalu kebanjiran konsumen, terlebih di saat jam makan siang dan makan malam. Daging kepala manyung yang lembut dengan kuah yang pedas namun “seger” membuat banyak orang ketagihan.
“Sengaja menyajikan menu kepala manyung berbeda dari yang lain, karena ingin memberikan sensasi berbeda bagi penikmati kuliner kepala manyung,” ucapnya.
Menu olahan oseng kepala manyung Mas Edy memang sangat spesial. Kepala manyung dipilih yang terbaik. Untuk mendapatkan kepala manyung yang berkualitas harus mendatangkan dari sentra pengasapan ikan dari Semarang, Demak dan Kendal.

Bumbunya pun penuh dengan rempah-rempah seprti bawang merah, bawang putih, kencur, laos, Jahe, sere, daun jeruk, mrica kemiri, termasuk gula dan garam. “Kita sengaja menggunakan rempah-rempah yang cukup banyak karena memang supaya memiliki cita rasa yang berbeda dari bisanya,” tutur dia.
Oseng kepala manyung di warung Edy ada beberapa ukuran, mulai dari jumbo, besar, sedang dan kecil. Harganya pun berbeda mulai dari Rp15.000—60.000 per porsinya.
Selain, menyediakan menu khas oseng-oseng kepala Manyung, warung ini juga menyediakan menu lain seperti sup ikan daun kedondong dan masakan laut lainnya.

Meski sudah menekuni bisnis kuliner, Edy yang menjadi salah satu pendiri Snex ini tidak lantas melupakan saudara-saudaranya di Snex. Dia tetap memberikan dukungan kepada PSIS, bersama suporter Snex.
Edy pun mengajak rekan-rekannya untuk menjadi karyawan di empat warungnya. Setidaknya ada 16 anggota Snex yang dia berdayakan untuk menjadi karyawan.
Menjadikan anggota Snex karyawan bukanlah perkara mudah apalagi tidak banyak yang memiliki pengalaman memasak. Oleh karena itu Edy pun dengan tekun mengajari mereka. Dengan diajari memasak harapannya ke depan mereka bisa membuka usaha sendiri secara mandiri.
“Melalui warung makan ini saya juga ingin mengajak teman-teman Snex untuk berwirausaha, supaya bisa mandiri. Mendukung tim secara militan boleh, tapi juga perlu memikirkan masa depan,” katanya.
(alv)