4 Risiko Umrah ala Backpacker

Selasa, 11 Juli 2017 - 21:58 WIB
4 Risiko Umrah ala Backpacker
4 Risiko Umrah ala Backpacker
A A A
JAKARTA - Calon jamaah umrah harus diedukasi secara benar tentang umrah backpacker. Edukasi ini penting, khususnya bagi calon jamaah yang baru pertama kali melakukan umrah di Tanah Suci.

Jangan karena tergiur murah, namun mereka mendapat kesulitan yang besar selama melakukan kegiatan ritual di Haramain (dua tanah suci).

"Setidaknya ada empat risiko yang dihadapi calon jamaah yang melakukan umrah backpacker," kata pengamat haji dan umrah Muhammad Hidir Andi Saka ditemui di kantornya, di kawasan perkantoran Icon Business Park BSD City,Tangerang Selatan, Banten, Selasa (11/7/2017).

Risiko pertama, kata Hidir, segala sesuatu yang tidak diserahkan kepada ahlinya maka, akan menimbulkan masalah. Seperti visa umrah yang tidak mungkin dikeluarkan jika, tidak melalui visa provider. Ditambahkannya, calon jamaah tetap akan melalui travel sebelum melakukan perjalanan ke Tanah Suci.

"Sudah jelas visa provider itu adalah travel yang sudah terdaftar resmi di Pemerintah," ujar dia.

Risiko kedua adalah penanganan barang bawaan, baik saat di bandara keberangkatan maupun kedatangan. Jika calon jamaah tidak mengerti seluk beluk keimigrasian, menurut Hidir, akan membawa masalah yang menyita waktu.

"Kalau jamaah kehilangan barang di bandara, maka itu akan merugikan dia. Mengurus itu semua tidak sebentar. Belum lagi kalau jamaah tidak bisa berbahasa Arab atau Inggris," jelasnya.

Ketiga, jamaah backpacker akan menderita di Tanah Suci karena terlalu menghemat biaya akomodasi dan konsumsi. Jika dibiarkan seperti itu, jamaah bisa jatuh sakit karena fisiknya tidak tahan dengan cuaca di Makkah atau Madinah.

"Mereka tidak mau mengeluarkan uang untuk sewa hotel selama umrah. Ini tentu menyiksa, karena suhu udara di Tanah Suci sangat panas. Kalau menginap di hotel, maka setidaknya jamaah memiliki banyak waktu untuk istirahat secara baik," imbuhnya.

Keempat, jamaah backpacker kebanyakan menggunakan maskapai murah yang terlalu banyak transit di beberapa negara. Hal ini, kata pria yang juga pemilik Qashwa Tour and Travel, akan membuang-buang waktu dan energi.

"Maksud hati menghemat biaya, namun pada akhirnya akan keluar biaya besar juga. Ketika transit di banyak negara pasti akan keluar biaya konsumsi yang juga tidak sedikit," bebernya.
(tdy)
Berita Terkait
5 Destinasi Wisata Populer...
5 Destinasi Wisata Populer di Dago Bandung, Tebing Keraton Jadi Fovorit
Daruma Pool and Coffee...
Daruma Pool and Coffee Destinasi Wisata Keluarga Baru di Tangerang
Wisata Argosari Lumajang,...
Wisata Argosari Lumajang, Desa di Atas Awan dengan Banyak Pesona
Deretan Wisata Religi...
Deretan Wisata Religi Bukit Doa Mahawu Sulawesi Utara, Ada Gua Bunda Maria
Sensasi Wisata Sarat...
Sensasi Wisata Sarat Fantasi di Sentosa Sensoryscape, Landmark Baru Singapura
5 Pesona Desa Sembalun...
5 Pesona Desa Sembalun yang Jadi Destinasi Bulan Madu Halal, bak Surga Dunia
Berita Terkini
Kasus Erin Berbalik...
Kasus Erin Berbalik Arah? Bukti Psikologis Nur Disebut Untungkan Herawati
12 jam yang lalu
Tak Hanya Ganggu Mental,...
Tak Hanya Ganggu Mental, Sering Marah-marah Bisa Melemahkan Daya Tahan Tubuh
12 jam yang lalu
Babak Baru Kasus Erin...
Babak Baru Kasus Erin Wartia, Pelapor Serahkan Dokumen LPSK ke Penyidik
13 jam yang lalu
Pesona China yang Berbeda:...
Pesona China yang Berbeda: Eksplor Keunikan Infrastruktur Chongqing dan Alam Zhangjiajie
13 jam yang lalu
Cut Meyriska Syok Hanania...
Cut Meyriska Syok Hanania Travel Bermasalah, Padahal Sudah Kantongi Akreditasi dan Rekor MURI
14 jam yang lalu
Desainer Indonesia Ditantang...
Desainer Indonesia Ditantang Jadi Agen Perubahan, Tak Lagi Sekadar Estetika
14 jam yang lalu
Infografis
3 Taktik Cerdas Iran...
3 Taktik Cerdas Iran untuk Kalahkan AS-Israel, Salah Satunya Perang Ala Vietnam
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved