Mengenal Penyakit Jantung Bawaan

Jum'at, 27 April 2018 - 08:32 WIB
Mengenal Penyakit Jantung...
Mengenal Penyakit Jantung Bawaan
A A A
PADA 2015 terdapat 40.000 bayi lahir dengan penyakit jantung bawaan (PJB). Angka tersebut cukup besar dan harus dapat ditangani secara tepat agar jiwa bayi dapat tertolong.

Dalam Press Conference 27th Asmiha 2018 di Jakarta belum lama ini, dr Oktavia Lilyasari SpJP(K) FIHA memberikan gambaran mengenai penyakit jantung bawaan (PJB) di Indonesia. Menurutnya, dengan jumlah kelahiran hidup sekitar 4,5 juta per tahun, diperkirakan terdapat lebih dari 40.000 bayi yang lahir dengan PJB.

“Hampir sepertiganya menderita PJB kritis yang mengancam jiwa dan memerlukan penanganan pada hari pertama atau tahun pertama kehidupan. Prevalensi ini terus meningkat seiring perkembangan diagnosis dan tata laksana penyakit tersebut,” urai dr Oktavia.

Dia mengatakan, risiko morbiditas (kesakitan) dan mortalitas (kematian) meningkat seiring adanya keterlambatan dalam diagnosis atau rujukan ke pelayanan kesehatan tersier untuk tata laksana selanjutnya.

PJB adalah penyakit dengan kelainan pada struktur jantung atau fungsi sirkulasi jantung yang dibawa dari lahir, yang terjadi akibat gangguan atau kegagalan perkembangan struktur jantung pada fase awal perkembangan janin. Gejala dan tanda PJB dapat dikenali sejak lahir atau sebaliknya hanya menimbulkan gejala minimal, seperti berat badan sulit naik atau infeksi saluran napas berulang, sehingga tidak terdeteksi hingga dewasa.

Dokter biasanya mencurigai adanya PJB bila mendeteksi adanya tanda/gejala gagal jantung, kebiruan, atau mendengar kelainan bunyi atau bising jantung. Masalahnya, sering kali PJB tidak memberikan gejala yang khas saat bayi baru lahir, mengingat sirkulasi darah dan sistem pernapasan masih mengalami transisi dari masa janin ke periode pascalahir.

Di Indonesia, diketahui dari 1.000 kelahiran yang hidup, sembilan di antaranya mengidap PJB. Pada sebagian besar kasus, penyebab PJB tidak diketahui. Berbagai jenis obat dan paparan radiasi pada ibu hamil diduga merupakan penyebab eksogen PJB. Penyakit rubela yang diderita ibu pada awal kehamilan juga dapat menyebabkan PJB pada bayi. Di samping faktor eksogen, terdapat pula faktor endogen yang berhubungan dengan kejadian PJB.

Berbagai jenis penyakit genetik dan sindrom tertentu berkaitan erat dengan kejadian PJB, seperti sindrom down dan turner. Adapun angka kejadian PJB di Amerika sekitar 8-10 dari 1.000 kelahiran hidup, sepertiga di antaranya bermanifestasi sebagai kondisi kritis pada tahun pertama kehidupan.

Kemajuan Teknologi Dunia Kardiologi
Sementara itu, pada kesempatan yang sama, dr Dafsah A Juzar SpJP(K) FIHA, Ketua Scientific Committee Asmiha 2018, memaparkan, prevalensi kematian di Indonesia tahun 2000-2012 pada orang-orang berusia 30-70 tahun terus meningkat, 23%-nya disebabkan penyakit tidak menular, seperti kanker, diabetes, penyakit pernapasan kronis. “Sekitar 40% di antaranya disebabkan penyakit kardiovaskular,” ujarnya.

Dia melanjutkan, pencitraan kardiovaskular merupakan hal yang esensial dalam memahami penyakit kardiovaskular. Pada awalnya pencitraan dianggap tidak lebih dari sarana memvisualisasikan perubahan struktur dan anatomi.

Namun, dengan penemuan teknologi baru, saat ini pencitraan berperan dalam diagnosis biologis, fungsional, hemodinamik, dan beberapa proses patofisiologi. “Tren pencitraan kardiovaskular saat ini akan fokus pada peningkatan diagnosis awal sehingga dapat meningkatkan kesehatan kardiovaskular dan dapat dikembangkan menjadi alat dalam mengambil keputusan klinis,” papar dr Dafsah.

Teknik pencitraan kardiovaskular juga sangat berperan dalam mendeteksi penyakit tertentu, seperti penebalan dinding pembuluh darah arteri karena plak yang terbentuk dari kolesterol dan kalsium atau biasa disebut atherosclerosis dan penyakit cardiomyopathise, yaitu kelainan pada otot jantung.
Salah satu kemajuan di bidang teknik pencitraan yang menggembirakan saat ini yaitu tren untuk memahami dan mengidentifikasi mekanisme patofisiologi melalui terapi pencegahan baru, yaitu pencitraan molekular yang dapat mengidentifikasi penyakit kardiovaskular sejak dini.

“Dari pendeteksian dini, pasien dapat diberikan obat dan terapi pencegahan agar darah tidak mengental sehingga dapat menimbulkan plak,” pungkasnya. (Sri Noviarni)
(nfl)
Berita Terkait
Solusi Deteksi Dini...
Solusi Deteksi Dini Penyakit Stroke dengan Aplikasi Jagatara
Antusias Warga Sambut...
Antusias Warga Sambut Deteksi Dini Kesehatan Jantung Gratis
Alat Pacu Jantung Terkecil...
Alat Pacu Jantung Terkecil di Dunia Seukuran Sebutir Beras Diperkenalkan
Resmi Dibuka, Heartology...
Resmi Dibuka, Heartology Hadirkan Terobosan untuk Penanganan Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah
Institut Jantung Negara,...
Institut Jantung Negara, Harapan Tanpa Batas untuk Pasien Jantung Indonesia
Meningkatkan Kerja Jantung...
Meningkatkan Kerja Jantung Pada Level Gagal Jantung
Berita Terkini
Rencanakan Liburan dengan...
Rencanakan Liburan dengan Lebih Fleksibel Melalui Paylater
20 menit yang lalu
Sinopsis Terikat Janji...
Sinopsis 'Terikat Janji' 4 Juni 2026: Identitas Aslinya Runtuh, Sena Rela Pikul Kesalahan Sendiri demi Lindungi Davina
2 jam yang lalu
ARMY Siap-Siap! Tiket...
ARMY Siap-Siap! Tiket Konser Comeback BTS di Jakarta Mulai Dijual Juni Ini
3 jam yang lalu
Sinopsis Microdrama...
Sinopsis Microdrama CEO Who Killed My Father di V+Short, Misi Jurnalis Bongkar Kejahatan CEO Berkuasa
4 jam yang lalu
Clara Shinta Resmi Laporkan...
Clara Shinta Resmi Laporkan Mantan Suami soal Dugaan Fitnah Titipan Uang Rp13 M
4 jam yang lalu
Bukan Hantu, Monster...
Bukan Hantu, 'Monster Pabrik Rambut' Sajikan Horor dari Dunia Kerja yang Melelahkan
4 jam yang lalu
Infografis
Zohran Mamdani, Kerikil...
Zohran Mamdani, Kerikil di Jantung Paman Sam
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved