Cegah Kanker Mulut dengan Samuri

Senin, 21 Januari 2019 - 09:11 WIB
Cegah Kanker Mulut dengan...
Cegah Kanker Mulut dengan Samuri
A A A
JAKARTA - Kampanye Samuri (periksa mulut sendiri) merupakan bentuk edukasi bagi masyarakat untuk mengenali perubahan pada rongga mulut sebagai deteksi dini kanker mulut.

Angka kematian kanker mulut tinggi, yakni sekitar 50%, dengan angka bertahan hidup kurang dari tiga tahun. Sementara jumlah penderita kanker mulut di Indonesia meningkat pesat menjadi 2.764 pada 2020. Fakta ini mengemuka dalam acara bertajuk “Cegah Kematian akibat Kanker Rongga Mulut dengan Deteksi Dini Lesi Pra- Kanker Samuri: Periksa Mulut Sendiri” beberapa waktu lalu di Jakarta. Sayangnya, kesadaran masyarakat untuk mengenali semua perubahan pada rongga mulut masih rendah.

Samuri merupakan upaya Ikatan Spesialis Penyakit Mulut Indonesia (ISPMI) mengedukasi masyarakat untuk memeriksa mulut secara mandiri. Di dunia, angka kematian yang disebabkan kanker rongga mulut sangat tinggi, yaitu 50%. Sementara di Indonesia, jumlah penderita kanker rongga mulut tercatat 5.329 pada 2012 dan diproyeksikan meningkat 21,5% pada 2020. Diketahui, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko kanker mulut, antara lain merokok, mengunyah tembakau, mengonsumsi alkohol, virus, pola makan, hingga latar belakang genetik.

Dalam studi terbaru juga diungkapkan bahwa kebiasaan menyirih juga dapat menyebabkan kanker mulut. Drg Rahmi Amtha MDS SpPM PhD, Ketua Ikatan Spesialis Penyakit Mulut Indonesia, memaparkan hasil penelitian independen terakhir yang dilakukan di Jakarta dan Nusa Tenggara Timur (NTT).“Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor risiko penyebab kanker mulut di Jakarta dan NTT yang tertinggi adalah merokok, mengunyah sirih, dan minum alkohol,” sebutnya dalam presentasinya.
Di NTT, penyebab utama tertinggi kanker rongga mulut adalah buah pinang, tembakau, dan alkohol. Adapun penderita kanker mulut terbanyak adalah laki-laki berusia di atas 40 tahun. Drg Rahmi menyebut, 64% kanker mulut dapat diawali lesi prakanker yang ditandai dengan perubahan warna, di mana tekstur atau tampilan mukosa mulut normalnya berwarna merah muda dan kenyal. Jika terjadi perubahan warna menjadi putih, merah, atau kombinasi keduanya, hal ini dapat menjadi petunjuk adanya lesi yang memerlukan perhatian.

Hal ini sayangnya jarang disadari penderita. Sebab, selain tidak memperhatikan perubahan warna dan tekstur rongga mulut, penderita juga tidak merasakan sakit sehingga gejala awal ini diabaikan. Drg Rahmi menjelaskan, tanda-tanda awal kanker mulut dikenali dengan adanya perubahan warna dan tekstur serta luka yang tidak sembuh selama lebih dari satu bulan.“Banyak orang tidak mengetahui bahwa dia menderita kanker rongga mulut karena tidak ada rasa sakit dan tidak mengetahui tanda-tandanya,” bebernya.
Di Indonesia banyak ditemukan pasien yang menderita kanker rongga mulut dengan lokasi di lidah. Dia menambahkan, angka bertahan hidup pasien kanker rongga mulut tergolong kecil, yakni di bawah tiga tahun. Apabila lesi prakanker dapat ditemukan dan kemunduran selnya belum terlalu jauh serta respons pengobatan masih baik, angka bertahan hidup pasien dapat meningkat lebih dari 80% atau di atas lima tahun sehingga angka kematian dapat diturunkan. Maka itu, Ikatan Spesialis Mulut saat ini melakukan edukasi dan sosialisasi lebih banyak. Salah satunya dengan gerakan Samuri.

“Melalui gerakan ini, masyarakat akan diajarkan bagaimana memeriksa mulut secara mandiri dan menjaga kebersihan rongga mulut dengan baik,” ucap drg Rahmi.Ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia Dr drg R M Sri Hananto Seno SpBM (K) MM mengatakan, diagnosis dini kanker mulut menjadi prioritas tujuan kesehatan masyarakat, di mana dibutuhkan profesional kesehatan andal. Di sinilah dokter gigi memegang peran penting. “Dokter gigi tidak hanya memeriksa masalah pada gigi, tetapi penting melakukan deteksi awal kanker mulut,” ucap drg Seno mengakhiri pembicaraan. (Sri Noviarni)
(nfl)
Berita Terkait
Opsi Pengobatan Makin...
Opsi Pengobatan Makin Banyak, Penyakit Kanker Bukan Akhir Segalanya
Lewat Unggahan Positif,...
Lewat Unggahan Positif, Masyarakat Peduli Kanker Bisa Berdonasi Tanpa Sumbang Uang
Ibu-ibu Bhayangkari,...
Ibu-ibu Bhayangkari, Jalasenastri, dan Persit di Sikka Jalani Deteksi Dini Kanker Payudara
3 Kanker Paling Mematikan...
3 Kanker Paling Mematikan di Indonesia, Waspadai Sejak Dini
Kenali Risiko dan Gejala...
Kenali Risiko dan Gejala Limfoma, Kanker Darah yang Harus Diwaspadai sejak Dini
9 Hal Mengejutkan yang...
9 Hal Mengejutkan yang Bisa Menyebabkan Kanker, dari Teh Panas hingga Alat Kontrasepsi
Berita Terkini
INDOFEST 2026 Digelar,...
INDOFEST 2026 Digelar, Taffware Tawarkan Diskon Perlengkapan Outdoor Besar-besaran
3 jam yang lalu
Pendakian Gunung Meningkat,...
Pendakian Gunung Meningkat, Menhut Siapkan Pengaturan untuk Cegah Kecelakaan dan Sampah
9 jam yang lalu
Clara Shinta Tegaskan...
Clara Shinta Tegaskan Tak Punya Catatan Kriminal, SKCK Jadi Bukti di Tengah Polemik
10 jam yang lalu
Latihan Kaki Tak Hanya...
Latihan Kaki Tak Hanya Bakar Kalori, Ternyata Penting untuk Keseimbangan Hormon
11 jam yang lalu
Rencanakan Liburan dengan...
Rencanakan Liburan dengan Lebih Fleksibel Melalui Paylater
11 jam yang lalu
Sinopsis Terikat Janji...
Sinopsis 'Terikat Janji' 4 Juni 2026: Identitas Aslinya Runtuh, Sena Rela Pikul Kesalahan Sendiri demi Lindungi Davina
13 jam yang lalu
Infografis
6 Strategi Iran Memperpanjang...
6 Strategi Iran Memperpanjang Durasi Perang dengan AS dan Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved