Kesuksesan Ali Wong Tidak Lepas dari Dukungan sang Ayah
Sabtu, 10 Agustus 2019 - 11:17 WIB
Kesuksesan Ali Wong Tidak Lepas dari Dukungan sang Ayah
A
A
A
BARU-BARU ini Ali menceritakan bagaimana mendiang ayahnya, Adolphus Wong, sangat mendukung kariernya sebagai aktris dan komedian. Dikutip dari Next Shark, saat menjadi bintang tamu dalam acara Jimmy Kimmel Live, Ali menceritakan sosok ayah yang mendukungnya dan bagaimana dia dibesarkan di apartemen satu kamar di Chinatown, San Francisco, tanpa air ledeng.
Sedangkan, sang ayah belajar dan bekerja keras menjadi ahli anestesi untuk memberikan kehidupan terbaik bagi dia dan saudaranya. “Bahkan ketika saya sedang berjuang, dia sangat mendukung,” ujarnya. Ali menggambarkan bagaimana ayahnya dulu selalu berusaha datang ke pertunjukannya yang terbilang agak sepi penonton demi mendukungnya.
Setiap kali melontarkan lelucon yang sangat kotor, Ali sering mengumumkan kepada hadirin kalau ayah ada bersamanya dan sedang menontonnya. Lalu, sang ayah akan berdiri dan melambaikan tangannya dengan gerakan isyarat. Ali menceritakan, ayahnya dengan bangga menunjuk seolah-olah dia baru saja memenangkan Indy 500 atau menaklukkan Gunung Everest.
Ayah Ali diketahui meninggal dunia pada 31 Maret 2011 dalam usia 74 tahun. Adolphus Wong lahir di San Francisco. Dia putra seorang pekerja pabrik dan juru masak. Adolphus sempat berkuliah di University of California Berkeley dan Fakultas Kedokteran UCSF. Dia menjadi dokter anestesi di Rumah Sakit Kaiser selama 30 tahun. “Ketika ayah meninggal, saya masih berjuang untuk karier saya. Padahal, saya selalu membayangkan ayah saya ada di Museum Smithsonian,” ujar Ali, dikutip The Huffington Post.
Diketahui, Ali memiliki kostum ikonik yang dikenakannya dalam pertunjukan Baby Cobrapada sekitar 2016. Dia lantas memutuskan untuk menyerahkan kostum tersebut kepada Museum Smithsonian. Saat wawancara dengan majalah San Franciscopada 2017, Ali menggambarkan ayahnya sebagai sosok yang benar-benar kebalikan dari stereotip orang Asia.
“Ayah saya adalah pria Asia-Amerika yang tidak konvensional. Dia tidak pendiam, tidak pemalu, tidak pasif. Kalau dia harus kentut, dia bisa melakukannya di perpustakaan. Dia tidak peduli. Dia seperti mengatakan, ‘Biar saja, aku kantidak kenal orangorang itu. Aku tidak nyaman dan harus melepaskannya’,” tutur Ali.
Sedangkan, sang ayah belajar dan bekerja keras menjadi ahli anestesi untuk memberikan kehidupan terbaik bagi dia dan saudaranya. “Bahkan ketika saya sedang berjuang, dia sangat mendukung,” ujarnya. Ali menggambarkan bagaimana ayahnya dulu selalu berusaha datang ke pertunjukannya yang terbilang agak sepi penonton demi mendukungnya.
Setiap kali melontarkan lelucon yang sangat kotor, Ali sering mengumumkan kepada hadirin kalau ayah ada bersamanya dan sedang menontonnya. Lalu, sang ayah akan berdiri dan melambaikan tangannya dengan gerakan isyarat. Ali menceritakan, ayahnya dengan bangga menunjuk seolah-olah dia baru saja memenangkan Indy 500 atau menaklukkan Gunung Everest.
Ayah Ali diketahui meninggal dunia pada 31 Maret 2011 dalam usia 74 tahun. Adolphus Wong lahir di San Francisco. Dia putra seorang pekerja pabrik dan juru masak. Adolphus sempat berkuliah di University of California Berkeley dan Fakultas Kedokteran UCSF. Dia menjadi dokter anestesi di Rumah Sakit Kaiser selama 30 tahun. “Ketika ayah meninggal, saya masih berjuang untuk karier saya. Padahal, saya selalu membayangkan ayah saya ada di Museum Smithsonian,” ujar Ali, dikutip The Huffington Post.
Diketahui, Ali memiliki kostum ikonik yang dikenakannya dalam pertunjukan Baby Cobrapada sekitar 2016. Dia lantas memutuskan untuk menyerahkan kostum tersebut kepada Museum Smithsonian. Saat wawancara dengan majalah San Franciscopada 2017, Ali menggambarkan ayahnya sebagai sosok yang benar-benar kebalikan dari stereotip orang Asia.
“Ayah saya adalah pria Asia-Amerika yang tidak konvensional. Dia tidak pendiam, tidak pemalu, tidak pasif. Kalau dia harus kentut, dia bisa melakukannya di perpustakaan. Dia tidak peduli. Dia seperti mengatakan, ‘Biar saja, aku kantidak kenal orangorang itu. Aku tidak nyaman dan harus melepaskannya’,” tutur Ali.
(don)