Diet Ala Barat Buruk Bagi Kesehatan dan Lingkungan
Senin, 15 Desember 2014 - 12:49 WIB
Diet Ala Barat Buruk Bagi Kesehatan dan Lingkungan
A
A
A
WASHINGTON - Diet berkadar lemak dan gula tinggi dapat membuat para pelakunya menjadi kian gemuk dan rentan terkena penyakit.
Kajian yang dipublikasikan di jurnal Nature itu juga menyebut diet ala Barat yang tinggi kadar gula, garam, minyak dan daging buruk untuk kesehatan manusia dan lingkungan.
Dilansir dari VOA, pada studi tersebut, David Tilman seorang dosen ekologi dari University of Minnesota, menganalisa data dari 100 negara untuk melihat apa saja yang di makan oleh orang-orang. Selain itu, penelitian ini juga untuk melihat bagaimana pola makan dapat mempengaruhi kesehatan.
Dia mencatat sebuah tren yang mulai pada 1960an: negara-negara semakin terindustrialisasi, populasi meningkat dan pendapatan naik. Semakin banyak orang mengadopsi diet ala barat, yang berkadar gula halus, lemak, minyak dan daging yang tinggi. Orang-orang pun mulai menggemuk dan tidak sehat.
"Di 15 negara terkaya di dunia saat ini, banyak orang makan 400 atau 500 kalori tambahan sehari di luar yang diperlukan, sehingga berat badan mereka naik," ujar Tilman.
Tilman menambahkan, orang-orang yang memiliki berat badan berlebih memiliki risiko lebih besar atas penyakit-penyakit tidak menular seperti diabetes, penyakit jantung dan beberapa jenis kanker.
"Diabetes melonjak sangat tinggi di Amerika Serikat dan seluruh Eropa. Penyakit jantung adalah sebab utama kematian di negara-negara Barat. Dan sayangnya, ketika negara-negara menjadi lebih industrialis, mereka mengadopsi diet Barat, dan memiliki dampak-dampak kesehatan yang sama dan di beberapa kasus, jika Anda orang Asia, dampaknya lebih parah daripada orang Barat," ujar Tilman.
Hal itu terjadi di China, tempat penderita diabetes melonjak dari kurang dari 1% menjadi 10% dari populasi dalam periode 20 tahun.
"Angka ini masih akan terus naik, dan hal ini terjadi di seluruh dunia, di Meksiko, Nigeria dan lainnya, negara demi negara," ujar Tilman.
Menurut dia, pola makan ala barat juga buruk bagi lingkungan. Para ahli memperkirakan bahwa ketika populasi global meningkat, lebih banyak habitat hutan dan tropis yang akan diubah menjadi lahan pertanian dan peternakan untuk memenuhi meningkatnya permintaan akan makanan.
"Akan lebih banyak gas rumah kaca yang dihasilkan pertanian akibat pergeseran pola makan ini, dibandingkan gas-gas rumah kaca saat ini yang dihasilkan mobil, pesawat terbang, kapal dan semua bentuk transportasi," ujar Tilman.
Kajian yang dipublikasikan di jurnal Nature itu juga menyebut diet ala Barat yang tinggi kadar gula, garam, minyak dan daging buruk untuk kesehatan manusia dan lingkungan.
Dilansir dari VOA, pada studi tersebut, David Tilman seorang dosen ekologi dari University of Minnesota, menganalisa data dari 100 negara untuk melihat apa saja yang di makan oleh orang-orang. Selain itu, penelitian ini juga untuk melihat bagaimana pola makan dapat mempengaruhi kesehatan.
Dia mencatat sebuah tren yang mulai pada 1960an: negara-negara semakin terindustrialisasi, populasi meningkat dan pendapatan naik. Semakin banyak orang mengadopsi diet ala barat, yang berkadar gula halus, lemak, minyak dan daging yang tinggi. Orang-orang pun mulai menggemuk dan tidak sehat.
"Di 15 negara terkaya di dunia saat ini, banyak orang makan 400 atau 500 kalori tambahan sehari di luar yang diperlukan, sehingga berat badan mereka naik," ujar Tilman.
Tilman menambahkan, orang-orang yang memiliki berat badan berlebih memiliki risiko lebih besar atas penyakit-penyakit tidak menular seperti diabetes, penyakit jantung dan beberapa jenis kanker.
"Diabetes melonjak sangat tinggi di Amerika Serikat dan seluruh Eropa. Penyakit jantung adalah sebab utama kematian di negara-negara Barat. Dan sayangnya, ketika negara-negara menjadi lebih industrialis, mereka mengadopsi diet Barat, dan memiliki dampak-dampak kesehatan yang sama dan di beberapa kasus, jika Anda orang Asia, dampaknya lebih parah daripada orang Barat," ujar Tilman.
Hal itu terjadi di China, tempat penderita diabetes melonjak dari kurang dari 1% menjadi 10% dari populasi dalam periode 20 tahun.
"Angka ini masih akan terus naik, dan hal ini terjadi di seluruh dunia, di Meksiko, Nigeria dan lainnya, negara demi negara," ujar Tilman.
Menurut dia, pola makan ala barat juga buruk bagi lingkungan. Para ahli memperkirakan bahwa ketika populasi global meningkat, lebih banyak habitat hutan dan tropis yang akan diubah menjadi lahan pertanian dan peternakan untuk memenuhi meningkatnya permintaan akan makanan.
"Akan lebih banyak gas rumah kaca yang dihasilkan pertanian akibat pergeseran pola makan ini, dibandingkan gas-gas rumah kaca saat ini yang dihasilkan mobil, pesawat terbang, kapal dan semua bentuk transportasi," ujar Tilman.
(alv)