Sindrom Patah Hati Meningkat Selama Pandemi Covid-19
Selasa, 14 Juli 2020 - 17:30 WIB
Stress cardiomyopathy adalah diagnosis yang relatif baru, dan dokter masih berusaha untuk memahami sepenuhnya. Tapi kondisi ini mendapat julukannya karena mungkin muncul setelah peristiwa yang sulit secara emosional, seperti perceraian atau kematian orang yang dicintai.
Namun, situasi stres lainnya seperti dari kecelakaan lalu lintas hingga operasi juga bisa menjadi pemicu. Dr. David Kass, seorang profesor kardiologi di Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins di Baltimore menjelaskan, kondisi itu mungkin tidak muncul segera setelah pemicunya.
Kass mengatakan seseorang dapat, misalnya, mengembangkan stres kardiomiopati setelah mengalami gempa bumi kemudian berurusan dengan rasa takut yang lain. Kondisi ini diperkirakan terjadi ketika otot jantung diliputi oleh banjir katekolamin atau lebih dikenal sebagai hormon stres dan sementara mengurangi kemampuan memompa jantung.
Kondisinya ini cukup berbeda dari serangan jantung. Tidak ada penyumbatan di arteri, dan sel-sel otot jantung mungkin terpana untuk sementara, mereka tidak mati. Namun, dr. James Januzzi, ahli jantung di Massachusetts General Hospital di Boston dari American College of Cardiology menyebutkan bahwa gejalanya menyerupai serangan jantung, tapi saat tes dilakukan, ditemukan penyebab sebenarnya semakin jelas.
Januzzi menjelaskan, stres kardiomiopati terlihat berbeda dari serangan jantung pada elektrokardiogram, yang mengukur aktivitas listrik jantung. Ketika dokter melakukan angiogram untuk mengintip ke dalam arteri jantung, mereka tidak akan menemukan penyumbatan pada pasien dengan kardiomiopati stres.
Namun, situasi stres lainnya seperti dari kecelakaan lalu lintas hingga operasi juga bisa menjadi pemicu. Dr. David Kass, seorang profesor kardiologi di Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins di Baltimore menjelaskan, kondisi itu mungkin tidak muncul segera setelah pemicunya.
Kass mengatakan seseorang dapat, misalnya, mengembangkan stres kardiomiopati setelah mengalami gempa bumi kemudian berurusan dengan rasa takut yang lain. Kondisi ini diperkirakan terjadi ketika otot jantung diliputi oleh banjir katekolamin atau lebih dikenal sebagai hormon stres dan sementara mengurangi kemampuan memompa jantung.
Kondisinya ini cukup berbeda dari serangan jantung. Tidak ada penyumbatan di arteri, dan sel-sel otot jantung mungkin terpana untuk sementara, mereka tidak mati. Namun, dr. James Januzzi, ahli jantung di Massachusetts General Hospital di Boston dari American College of Cardiology menyebutkan bahwa gejalanya menyerupai serangan jantung, tapi saat tes dilakukan, ditemukan penyebab sebenarnya semakin jelas.
Januzzi menjelaskan, stres kardiomiopati terlihat berbeda dari serangan jantung pada elektrokardiogram, yang mengukur aktivitas listrik jantung. Ketika dokter melakukan angiogram untuk mengintip ke dalam arteri jantung, mereka tidak akan menemukan penyumbatan pada pasien dengan kardiomiopati stres.
Lihat Juga :