Apakah MPASI Fortifikasi Bahaya untuk Bayi? Ini Faktanya
Rabu, 27 September 2023 - 18:18 WIB
Dalam bidang industri, lanjut Prof. Sugiyono, salah satu makanan yang melalui proses pengeringan agar lebih awet adalah makanan bayi yang dikeringkan menjadi MPASI fortifikasi.
Tidak dipungkiri bahwa proses pengolahan dapat merusak sebagian vitamin yang ada pada makanan. Pada makanan fortifikasi, terang Prof. Sugiyono, sebagian zat gizi yang rusak atau hilang karena proses pengolahan, dapat diatasi dengan menambahkan vitamin serta mineral pada makanan yang telah diolah.
"Hal inilah yang membedakan fortifikasi dengan makanan yang diolah di rumah. Proses penambahan vitamin dan mineral ini justru bisa memberi tambahan nutrisi yang sangat sulit dipenuhi tiap hari, misalnya zat besi dan zat gizi mikro lain untuk memenuhi kebutuhan bayi," terang Prof. Sugiyono.
Prof. Sugiyono menegaskan, MPASI fortifikasi telah dikontrol sangat ketat oleh BPOM.
"Untuk produk MPASI fortifikasi, BPOM menerapkan standar yang sangat ketat mengingat pentingnya keamanan makanan bayi dan nilai gizinya. BPOM tidak mengizinkan MPASI fortifikasi mengandung pengawet, pewarna atau perisa, serta tidak boleh memiliki kandungan gula dan garam yang tinggi," terang Prof. Sugiyono.
Sementara itu, Dokter Spesialis Anak dr. Mas Nugroho Ardi Santoso, SpA, MKes mengatakan, selain memperhatikan nutrisi seimbang saat hamil, kemudian memastikan asupan gizi melalui ASI selama 6 bulan, ibu juga harus memperhatikan asupan nutrisi pada fase MPASI saat usia anak di atas 6 bulan.
Pada usia tersebut, anak sudah semakin membutuhkan nutrisi yang kompleks dan tidak cukup hanya diberikan melalui ASI. Anak sudah sangat perlu diberikan dukungan asupan lain melalui makanan pendamping ASI (MPASI).
Tidak dipungkiri bahwa proses pengolahan dapat merusak sebagian vitamin yang ada pada makanan. Pada makanan fortifikasi, terang Prof. Sugiyono, sebagian zat gizi yang rusak atau hilang karena proses pengolahan, dapat diatasi dengan menambahkan vitamin serta mineral pada makanan yang telah diolah.
"Hal inilah yang membedakan fortifikasi dengan makanan yang diolah di rumah. Proses penambahan vitamin dan mineral ini justru bisa memberi tambahan nutrisi yang sangat sulit dipenuhi tiap hari, misalnya zat besi dan zat gizi mikro lain untuk memenuhi kebutuhan bayi," terang Prof. Sugiyono.
Prof. Sugiyono menegaskan, MPASI fortifikasi telah dikontrol sangat ketat oleh BPOM.
"Untuk produk MPASI fortifikasi, BPOM menerapkan standar yang sangat ketat mengingat pentingnya keamanan makanan bayi dan nilai gizinya. BPOM tidak mengizinkan MPASI fortifikasi mengandung pengawet, pewarna atau perisa, serta tidak boleh memiliki kandungan gula dan garam yang tinggi," terang Prof. Sugiyono.
Sementara itu, Dokter Spesialis Anak dr. Mas Nugroho Ardi Santoso, SpA, MKes mengatakan, selain memperhatikan nutrisi seimbang saat hamil, kemudian memastikan asupan gizi melalui ASI selama 6 bulan, ibu juga harus memperhatikan asupan nutrisi pada fase MPASI saat usia anak di atas 6 bulan.
Pada usia tersebut, anak sudah semakin membutuhkan nutrisi yang kompleks dan tidak cukup hanya diberikan melalui ASI. Anak sudah sangat perlu diberikan dukungan asupan lain melalui makanan pendamping ASI (MPASI).
Lihat Juga :