Hari Batik Nasional, Ini Makna Filosofisnya yang Nyaris Pudar

Senin, 02 Oktober 2023 - 11:15 WIB
Permasalahan ini, lanjut Agnes, tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada pemerintah. Sebagai regulator, pemerintah tentu mengedepankan aspek ekonomi demi kesejahteraan masyakat. Apalagi bila sudah berkaitan dengan budaya, persoalannya akan menjadi sangat dilematis.

Maka dari itu, peran serta kesadaran masyarakat dalam menemukan kembali makna-makna yang tersimpan pada motif batik sangat diperlukan. Apalagi, masih banyak sekali pesan-pesan dari leluhur yang dapat digali lebih dalam, seperti pesan tentang menjalani hidup harmoni antar sesama yang terdapat pada motif parang.

Baca Juga: 5 Motif Batik Ini Miliki Makna Percintaan, Bisa Jadi Pakaian Couple

Belakangan motif parang kerap dikenakan sejumlah pejabat publik, tak terkecuali Bacapres Ganjar Pranowo. Secara rinci, motif parang menyimbolkan bahwa, setiap orang memiliki ketajaman rasa batin di atas rata-rata. Tutur katanya halus, memiliki kepekaan akan perasaan lawan bicaranya. Lebih banyak diam, tapi dalam diamnya orang merasakan getaran wibawanya.

Pengaruhnya besar, namun ia cenderung menyimpannya rapat-rapat, kecuali untuk kepentingan orang banyak. Kepentingan orang banyak di atas kepentingan pribadi, memilih bertindak untuk mengatasi masalah secara nyata dibanding sekadar melempar gagasan tanpa mau bertanggung jawab. Itulah garis besar makna filosofis di balik motif parang.

“Intinya, kita semua harus kembali curious. Mungkin dengan momen Hari Batik ini, kita bisa mengingatkan kembali bahwa banyak sekali makna motif-motif batik yang belum terpecahkan," jelas Agnes.

"Di mana seluruhnya, dapat mengajarkan kita tentang nilai-nilai intelektual hingga spiritual," tambahnya.

Baca Juga: Makna dan Filosofi Batik Parang yang Dikenakan Jokowi di Istana Berbatik, Kerap Dipakai Para Raja!
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!