Review Film Kelas Malam: saat Film Horor Memenuhi Hakikat Sejatinya

Rabu, 04 Oktober 2023 - 13:06 WIB
Pun demikian film ini juga tak dapat menghindari masalah utama film horor saat protagonisnya terkadang bertindak di luar nalar, meskipun lagi-lagi dapat dimaklumi karena di saat ketakutan dan panik seseorang dapat bertindak irasional. Contohnya saat di momen krusial, si karakternya tidak berbuat lebih nekad seperti memanjat pagar sekolah ketimbang mencari-cari kunci gembok pagar di ruang kepala sekolah, padahal situasinya kepepet diteror setan. Walaupun mungkin adegan ini dikreasi untuk mengulur aksi seram sang hantu.

Namun dalam banyak adegan lain, Kelas Malam masih masuk kategori dapat diterima akal sehat. Sehingga kesalahan banyak film horor yang biasanya abai pada aspek rasional secara besar-besaran tidak terulang di sini.

Harus diakui, film yang disutradarai dan ditulis naskahnya oleh Jeremy Sugiarto Sunarto ini cukup efektif dalam bercerita, tanpa banyak embel-embel dan langsung ke inti horornya. Dalam durasi tak sampai 11 menit, penonton dibawa pada ketegangan dan teror yang menarik untuk disimak.

Apalagi jika mengingat genre filmnya. Bukankah para penikmat film horor umumnya mencari-cari hal menakutkan yang membuat bergidik? Untuk kelas pemula, ia juga lihai bermain dengan kamera, menampilkan hantu yang tidak terlalu banci tampil dan memainkan sudut-sudut yang menarik di layar. Apalagi dengan visual kusam dan akting aktor utamanya yang terlihat organik semakin menambah kesan keautentikan legenda urban di sekolah ini.



Foto: Dok. Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Ciputra Surabaya

Ia juga memainkan perspektif kucing-tikus kala sang hantu muncul di awal teror dan menggiring protagonisnya dengan horor yang dicicil pelan-pelan tapi tanpa henti hingga akhir. Ketegangannya juga tampil tegas tanpa kecanggungan yang umumnya ditemui dalam film-film horor pemula.

Tren dan Fitrah Film Horor

Saat ini, film-film horor internasional mulai memasuki fase kemasan cerita yang dibuat tidak mengandalkan ketakutan dan adegan kejut semata. Dengan istilah elevated horror,film-film jenis ini juga menyajikan cerita lebih mendalam dari sekadar hantu penasaran yang membalas dendam dan tak diterima bumi. Film-film seperti Babadook, Midsommar, Us, It Follows, hingga yang rilis baru-baru ini, Talk To Me termasuk dalam kategori ini.

Selain membungkus kisah depresi hingga trauma menjadi momok horor, elevated horror juga seakan menaikkan kelas film horor yang biasanya dipandang sebelah mata menjadi sajian artistik yang multi-dimensional. Tapi, tak semua orang senang dijejali horor artistik semacam ini.

Terkadang penonton juga butuh hiburan ringan yang seru untuk sekadar melepas penat, bukan? Yang tanpa tedeng aling-aling langsung ke inti adegan seramnya tanpa membebani otak untuk berpikir habis-habisan.

Membahas film horor non-elevatedmenarik karena dianggap sebagai genre yang aman untuk mendulang penonton. Film-film seperti ini pada umumnya memiliki misi utama tak lebih untuk menakut-takuti penontonnya tanpa ampun. Semakin mengejutkan dan kreatif adegan yang dimunculkan, niscaya penikmat horor makin mengapresiasi film horor tersebut.

Cukup menarik karena banyak orang yang senang untuk ditakut-takuti. Pasalnya, saat kondisi manusia dalam keadaan ketakutan, hormon adrenalin mengalir deras ke tubuh memberikan sensasi ke sekujur raga.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!