Review Film How Explain It: Malu-malu Mau Bicara Seks

Rabu, 25 Oktober 2023 - 13:27 WIB
Berdurasi kurang dari delapan menit, How Explain It dibuka dengan adegan seorang ayah yang menjemput anak gadisnya yang masih bersekolah dasar sepulang sekolah. Dalam perjalanan, si anak perempuan ini memberikan satu pertanyaan sulit bagi sang ayah, “Ayah, seks itu apa ya?“

Kontan si ayah terkejut. Saya bisa menangkap rasa tak siap mendapat pertanyaan tersebut. Akan tetapi dia sadar punya kewajiban menjawab. Langkah-langkah si ayah mencari jawaban membuat saya tersindir. Sebagai orang tua yang termasuk generasi milenial, saya sadar setiap ada pertanyaan, Google adalah tempat bertanyanya.

Tidak seru kalau anak generasi Z kurang kritis. Setiap jawaban akan membawa pada pertanyaan lainnya yang tidak kalah sulitnya. Sisi baik di sini, keterbukaan dan keleluasaan anak untuk bertanya karena si ayah pun tak menghalangi pertanyaan dari anaknya.

Sosok ketiga dari film ini adalah ibu. Sosok ibu adalah penyelamat dalam segala hal. Benar, kan, begitu adanya? Ibu meski tampil sesaat mampu memberikan jawaban yang akhirnya membuka tabir mengapa pertanyaan pertama itu ada. Sebagai akhir, plot twist di akhir cerita tampak natural, tidak terduga, dan ada canda.

Film ini membawa pesan pendidikan seks yang sangat ringan dan netral buat saya. Pembuat cerita seakan-akan ingin memberi pesan pada orang tua untuk mau memulai percakapan sejak dini dengan anak. Anak sekarang pun, diceritakan dalam film, tak bisa dilarang untuk beropini, eksplorasi dengan perasaan, dan selalu kritis. Bergantung pada bagaimana orang tua bijak memberi respons.



Foto: Vidio

Pesan penting terakhir, tak perlu overthinking kala berdiskusi mengenai seks dengan anak. Percayalah bahwa kembalinya anak pada orang tua untuk bicara apa pun, termasuk seks, adalah hal yang paling melegakan dan patut disyukuri.

Ngobrol Tentang Seks antara Orang Tua dengan Anak

Jangankan belajar tentang seks, menyebutkan kata seks saja masih dianggap tabu oleh beberapa orang tua. Pada akhirnya, generasi remaja memilih untuk belajar dari teman, nonton televisi, atau pinjam kaset/DVD. Bertambahnya zaman, media belajar para remaja ini bertambah menjadi YouTube, TikTok, atau media digital lainnya. Dilema, media yang disebutkan di atas adalah tempat ternyaman mencari informasi tentang seks.

Nyaman bukan berarti aman. Sangat tidak dianjurkan mengenal dan belajar seks bukan dari orang atau sumber tepercaya. Apalagi hal terkait seks erat kaitannya dengan norma agama dan sosial. Para remaja di usia pubertas idealnya punya tuntunan menghadapi perubahan fisik, emosi, dan perilaku, termasuk bagaimana mengelola gairah dengan lawan jenisnya.

Sayangnya, survei yang digawangi oleh salah satu produsen kontrasepsi terkenal di Indonesia pada 2019 menyimpulkan bahwa 61% responden remaja takut bicara soal seks dengan orang tuanya. Mereka takut kalau dihakimi oleh orang tua ketika membuka percakapan terkait seks.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!