CERMIN: Hidup yang Kita Alami Memang Tak Seperti dalam Film-Film
Jum'at, 01 Desember 2023 - 13:39 WIB
Dalam kisah yang ditulisnya, Bagus bertemu pujaan hatinya pada sebuah hari biasa di salah satu supermarket. Namanya Hana (dimainkan Nirina Zubir, yang berpeluang besar membawa pulang Piala Citra yang kedua tahun depan). Sebagai penonton laki-laki, sejak pertama kali kita bertemu Hana, saya paham mengapa Bagus menyukainya.
Saya tak bisa menjelaskannya dengan gamblang dan skenario yang ditulis Yandy pun rasanya memang tak perlu menjelaskannya. Bagus tak berbinar-binar menatap Hana, Hana pun bersikap biasa saja terhadap Bagus. Tapi daya magis film bekerja dalam film ini yang membuat kita tahu ada api yang masih menyala dalam dada Bagus.
Foto: Imajinari
Karena itulah, sejak saat itu Bagus dan Hana semakin sering bertemu, Hana pun membiarkan dirinya yang baru saja menjanda membuka dirinya perlahan. Yang Hana tak pernah tahu sejak awal bahwa Bagus akan menuliskan semua yang mereka jalani ke dalam skenario film yang kelak akan disutradarainya sendiri.
Saya pun kelak membiarkan diri saya membayangkan menjadi Bagus. Bagaimana rasanya menjadi seseorang yang dengan alasan yang salah mencoba menuliskan kisah hidup seseorang tanpa seizinnya.
Saya masuk ke dalam dunia Bagus yang merasakan frustrasi (yang memang pernah saya alami sendiri) tatkala merasa skenario yang ditulis tak sebagus yang dibayangkan. Saya mencoba berpikir seperti Bagus yang menganggap film yang dibuatnya kali ini sebagai kado terindah untuk Hana sekaligus menjadi kejutan manis buatnya.
Sayangnya saya tak mencoba membayangkan diri saya menjadi Hana. Dengan segala luka yang belum pulih ditinggal suami. Dengan keinginan untuk tak ingin beranjak dari hidup yang tetap mengajaknya kembali berjalan. Dan meyakini bahwa karena kepahitan sudah terasakan dalam hidup, bolehkah kita mencicipi manisnya cinta di akhir kisah romansa?
Foto: Imajinari
Rekandi rumah produksi saya, Irfan Syam, pernah iseng menghitung berapa banyak saya memasukkan soal kematian dalam film/serial/miniseri yang pernah saya produseri dan sutradarai. Ternyata cukup banyak. Mungkin memang karena sejak usia remaja, saya sudah merasakannya dan melihatnya sebagai bagian alamiah dari hidup.
Jatuh Cinta Seperti di Film-Film membuat saya kembali membayangkan rasanya jatuh cinta untuk kesekian kalinya dengan sinema. Menjadikannya sebagai bagian dari aliran darah yang mengairi hidup saya, meski dengan konsekuensi bahwa dalam usia 60-an kelak, mungkin saya akan punya kesulitan memisahkan antara hidup dalam film dengan hidup yang saya jalani.
Saya tak bisa menjelaskannya dengan gamblang dan skenario yang ditulis Yandy pun rasanya memang tak perlu menjelaskannya. Bagus tak berbinar-binar menatap Hana, Hana pun bersikap biasa saja terhadap Bagus. Tapi daya magis film bekerja dalam film ini yang membuat kita tahu ada api yang masih menyala dalam dada Bagus.
Foto: Imajinari
Karena itulah, sejak saat itu Bagus dan Hana semakin sering bertemu, Hana pun membiarkan dirinya yang baru saja menjanda membuka dirinya perlahan. Yang Hana tak pernah tahu sejak awal bahwa Bagus akan menuliskan semua yang mereka jalani ke dalam skenario film yang kelak akan disutradarainya sendiri.
Saya pun kelak membiarkan diri saya membayangkan menjadi Bagus. Bagaimana rasanya menjadi seseorang yang dengan alasan yang salah mencoba menuliskan kisah hidup seseorang tanpa seizinnya.
Saya masuk ke dalam dunia Bagus yang merasakan frustrasi (yang memang pernah saya alami sendiri) tatkala merasa skenario yang ditulis tak sebagus yang dibayangkan. Saya mencoba berpikir seperti Bagus yang menganggap film yang dibuatnya kali ini sebagai kado terindah untuk Hana sekaligus menjadi kejutan manis buatnya.
Sayangnya saya tak mencoba membayangkan diri saya menjadi Hana. Dengan segala luka yang belum pulih ditinggal suami. Dengan keinginan untuk tak ingin beranjak dari hidup yang tetap mengajaknya kembali berjalan. Dan meyakini bahwa karena kepahitan sudah terasakan dalam hidup, bolehkah kita mencicipi manisnya cinta di akhir kisah romansa?
Foto: Imajinari
Rekandi rumah produksi saya, Irfan Syam, pernah iseng menghitung berapa banyak saya memasukkan soal kematian dalam film/serial/miniseri yang pernah saya produseri dan sutradarai. Ternyata cukup banyak. Mungkin memang karena sejak usia remaja, saya sudah merasakannya dan melihatnya sebagai bagian alamiah dari hidup.
Jatuh Cinta Seperti di Film-Film membuat saya kembali membayangkan rasanya jatuh cinta untuk kesekian kalinya dengan sinema. Menjadikannya sebagai bagian dari aliran darah yang mengairi hidup saya, meski dengan konsekuensi bahwa dalam usia 60-an kelak, mungkin saya akan punya kesulitan memisahkan antara hidup dalam film dengan hidup yang saya jalani.
Lihat Juga :