CERMIN: Lagi-Lagi Kejutan dari Malaysia

Jum'at, 08 Desember 2023 - 13:21 WIB
Film Malaysia La Luna menyajikan premis menggelitik tentang toko pakaian dalam perempuan yang ada di desa konservatif. Foto/Golden Village
JAKARTA - Tahun 2023. Tiga judul film Malaysia hadir di tengah kebosanan penonton film Indonesia dengan semakin tak menariknya materi cerita sebagian film dari negerinya sendiri.

Pendatang menjadi sebuah anomali dari Malaysia dengan genre thriller distopia yang memperlihatkan bagaimana Malaysia terpecah belah setelah Undang-Undang Segregasi diberlakukan. Sebagaimana yang kita tahu, di Malaysia bermukim sejumlah etnis mulai dari Melayu, Tionghoa, hingga India.



Dalam imajinasi penulis skenarionya, Boon Siang Lim, suatu saat isu etnis akan meledak dan memecah belah negeri itu. Dan selama 98 menit kita diperlihatkan betapa mengerikannya ketika segregasi terjadi, sebagaimana yang sering kita lihat terjadi dalam film-film Hollywood berlatar tahun 1950-1960-an.

Baca Juga: CERMIN: Hidup yang Kita Alami Memang Tak Seperti dalam Film-Film

Sebelumnya ada Tiger Stripes dari sutradara Amanda Nell Eu yang beroleh penghargaan prestisius Grand Jury Prize dari Cannes International Critics Week pada Mei lalu. Tiger Stripes juga sebuah anomali ketika Amanda menceritakan secara eksperimental bagaimana pengalaman seorang remaja perempuan mengalami menstruasi pertamanya dan berujung pada metamorfosa si remaja menjadi makhluk jadi-jadian.

Tiger Stripes hadir dalam rangkaian Jakarta Film Week yang digelar di CGV Grand Indonesia pada Oktober 2023 lalu, sementara Pendatang diputar secara daring di KlikFilm dalam rangkaian Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) 2023 yang baru saja berlangsung. Kini La Luna hadir secara reguler di bioskop dan menjadi kesempatan langka menyaksikan film dari Negeri Jiran tersebut di layar besar.



Foto: Golden Village

Tapi La Luna memang pantas disaksikan di layar besar. Siapa yang tak tergelitik dengan premisnya tentang kehadiran toko pakaian dalam perempuan yang hadir di sebuah desa yang sangat Islami dan kelak mengguncang sendi-sendi kehidupan di dalamnya.

Di tangan sutradara Raihan Halim, kritik soal susahnya kita menerima perubahan bisa tersampaikan dengan begitu jenaka tapi pada saat bersamaan juga bisa begitu jernih dan telak. Tak tercium pretensi untuk menceramahi penonton akan terjadinya pergeseran nilai karena kita melihat Raihan sekadar menghidangkan apa yang sebenarnya sudah kita ketahui, mungkin juga kita alami, dengan lebih jelas di depan mata kita.

Desa Bras Basah adalah sebuah desa yang mencoba menjalankan syariat Islam secara ketat, bisa juga secara keterlaluan. Tuhan dipersonifikasi sebagai sosok yang menakutkan sebagai jalan bagi penguasa untuk mendikte pemikiran warganya. Penguasa bahkan merasa perlu memberlakukan sensor demi menjaga kesucian desa yang jika perlu ditundukkan dengan tangan besi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!