CERMIN: Lagi-Lagi Kejutan dari Malaysia

Jum'at, 08 Desember 2023 - 13:21 WIB
Masjid pun sering kali digunakan sebagai tempat untuk mendikte pemikiran yang jelas sekali bertentangan dengan ajaran Islam yang justru menyuruh kita "membaca”. Tapi pada hari-hari-hari ini, ketika era keterbukaan informasi menggema di seluruh dunia, masih relevankah sensor dan dikte? Apa urgensi menyeragamkan isi kepala masyarakat dan mengatur tata perilaku mereka secara keseluruhan?

Datuk Hassan menjadi sosok penguasa bengis itu. Ia hanya mempercayai nilai-nilai yang diyakininya. Sebagai penguasa desa, ia memaksakan nilai-nilai itu kepada warganya dan membuat mereka tunduk selama bertahun-tahun tanpa berani melakukan protes secara terbuka.



Foto: Golden Village

Hingga suatu hari seorang perempuan tak berhijab, namanya Hanie Abdullah, datang ke desa itu dan membuka toko pakaian dalam perempuan di sana. Hanie datang ke desa itu karena punya keterikatan kekeluargaan. Ia adalah cucu dari tokoh masyarakat di sana dan bangunan yang digunakannya membuka toko adalah warisan dari kakeknya.

Tak ada yang salah dengan itu, tak ada yang aneh dengan itu. Buat kita yang hidup di masyarakat modern, justru aneh melihat Datuk Hassan seperti kebakaran jenggot ketika melihat toko tersebut dianggapnya akan mencoreng kesucian desa yang sudah dijaganya selama bertahun-tahun.

Pelan-pelan kita tahu warga sesungguhnya sudah lama ingin berontak dengan kekangan dari aturan-aturan yang dibuat Datuk Hassan untuk desa itu. Maka kehadiran toko yang kemudian diberi nama La Luna itu menjadi katalis.

Bibit-bibit pemberontakan yang sesungguhnya sudah ada itu pelan-pelan mencari sumbunya. Tapi perubahan memang tak bisa datang dalam semalam. Dan warga pun masih menghormati Datuk Hassan.



Foto: Golden Village

Pelan-pelan pula kita melihat Raihan menggeser La Luna dari komedi pengocok tawa menjadi sebuah kritik sosial yang sesungguhnya pedas. Skenario yang dirakit Raihan secara brilian menangkap bagaimana La Luna menjadi semacam pelampiasan keterkungkungan selama bertahun-tahun itu.

Kita juga melihat La Luna berubah menjadi tempat aman bagi perempuan yang mengalami KDRT dari suaminya. Sebagaimana yang diucapkan Hanie ketika ditanya kenapa lampu penanda La Luna yang terang benderang perlu menyala sepanjang malam, ia menjawab bahwa pada suatu masa lampu penanda itu diartikan sebagian perempuan pelanggannya sebagai beacon of hope (suar harapan). Selama lampu itu menyala, selama itu pula ada ruang aman bagi perempuan untuk menyelamatkan diri dari kemalangan yang hendak menimpanya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!