Ini Gejala Adanya Potensi Bunuh Diri di Kalangan Remaja yang Harus Diwaspadai
Selasa, 19 Desember 2023 - 03:49 WIB
“Isu kesehatan mental menjadi salah satu prioritas KGSB, selain masalah kekerasan seksual dan bullying. Kami mengajak para anggota KGSB untuk berperan aktif dalam membantu meningkatkan literasi kesehatan mental di lingkungan terdekatnya,” ujar Ruth.
Mengutip data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terungkap bahwa selama 11 tahun terakhir, 2012-2023, tercatat ada 2.112 kasus bunuh diri yang terjadi. Dari kasus bunuh diri sebanyak itu, 985 kasus (atau 46,63%) di antaranya dilakukan oleh remaja.
Secara global, data dari WHO yang dirilis tahun 2019 mengungkapkan kasus bunuh diri juga menjadi penyebab kematian terbesar keempat pada kelompok usia remaja 15-29 tahun di seluruh dunia.
Survey lebih mendalam yang dilakukan I-NAMHS (Indonesia National Adolescent Mental Health Survey) tahun 2022 mengungkapkan insight yang mengkhawatirkan. Bahwa, dari seluruh sampel survey yang diambil dalam 12 bulan terakhir, 1,4% remaja mengaku memiliki ide bunuh diri; 5% telah membuat rencana untuk bunuh diri; dan 0,2% telah melakukan percobaan bunuh diri.
Ana menambahkan 4 tanda dan gejala yang bisa dicermati pada remaja yang mengalami masalah gangguan kesehatan mental. Antara lain perubahan mood secara drastis, perubahan pola tidur dan pola makan, menurunnya minat dan energi, serta perubahan perilaku secara drastis termasuk penarikan diri dan perilaku merusak.
Baca Juga: Bidik Gen Z, Kinarya Coop Bikin Film untuk Tanam 5 Juta Mangrove
Sementara Ulifa Rahma, Psikolog dan Dosen Prodi Psikologi dari FISIP Universitas Brawijaya mengatakan, hasil survey yang dilakukan bersama tim dengan melibatkan 202 remaja usia 12-20 tahun mengungkapkan, efikasi diri (kepercayaan terhadap kemampuan diri), penerimaan lingkungan sosial dan depresi menjadi prediktor (variabel yang mempengaruhi) munculnya ide bunuh diri pada remaja dengan kontribusi sebesar 52%.
Mengutip data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terungkap bahwa selama 11 tahun terakhir, 2012-2023, tercatat ada 2.112 kasus bunuh diri yang terjadi. Dari kasus bunuh diri sebanyak itu, 985 kasus (atau 46,63%) di antaranya dilakukan oleh remaja.
Secara global, data dari WHO yang dirilis tahun 2019 mengungkapkan kasus bunuh diri juga menjadi penyebab kematian terbesar keempat pada kelompok usia remaja 15-29 tahun di seluruh dunia.
Survey lebih mendalam yang dilakukan I-NAMHS (Indonesia National Adolescent Mental Health Survey) tahun 2022 mengungkapkan insight yang mengkhawatirkan. Bahwa, dari seluruh sampel survey yang diambil dalam 12 bulan terakhir, 1,4% remaja mengaku memiliki ide bunuh diri; 5% telah membuat rencana untuk bunuh diri; dan 0,2% telah melakukan percobaan bunuh diri.
Gangguan Kesehatan Mental Remaja
Ana Susanti, Founder Rumah Guru BK dan Widyaiswara di Kemendikbud Ristek RI, memaparkan faktor-faktor yang bisa menjadi penyebab masalah kesehatan mental pada remaja. Masalah kesehatan remaja ini mencakup tekanan akademik, pergeseran sosial, pengaruh media sosial, dan totalitas harapan yang tinggi dari orang tua atau keluarga.Ana menambahkan 4 tanda dan gejala yang bisa dicermati pada remaja yang mengalami masalah gangguan kesehatan mental. Antara lain perubahan mood secara drastis, perubahan pola tidur dan pola makan, menurunnya minat dan energi, serta perubahan perilaku secara drastis termasuk penarikan diri dan perilaku merusak.
Baca Juga: Bidik Gen Z, Kinarya Coop Bikin Film untuk Tanam 5 Juta Mangrove
Sementara Ulifa Rahma, Psikolog dan Dosen Prodi Psikologi dari FISIP Universitas Brawijaya mengatakan, hasil survey yang dilakukan bersama tim dengan melibatkan 202 remaja usia 12-20 tahun mengungkapkan, efikasi diri (kepercayaan terhadap kemampuan diri), penerimaan lingkungan sosial dan depresi menjadi prediktor (variabel yang mempengaruhi) munculnya ide bunuh diri pada remaja dengan kontribusi sebesar 52%.
Lihat Juga :