Makna dan Sejarah Topi Khas Rote NTT, Dikenakan Ganjar Pranowo di Debat Cawapres 2023
Jum'at, 22 Desember 2023 - 20:47 WIB
Setelah berlayar dan menangkap kura-kura serta ikan pari, keduanya bergegas pulang ke rumah. Di pertengahan jalan, keduanya melihat pohon lontar dan berhenti sejenak. Mereka mengambil daun lontar untuk menutupi kepalanya. Kemudian ia menganyam daun lontar tersebut seperti bentuk motif cangkang kura-kura, bagian samping topi itu terlihat lebar seperti ikan pari.
Dahulu ti’ilangga hanya memiliki dua jenis, yaitu jenis ikan pari dan jenis kura-kura, namun kini jenisnya semakin banyak, seperti ti’ilangga do sela (jenistopi yang berdaun kasar), ti’ilangga do lutu (jenis topi yang berdaun halus), ti’ilanggaa’angguk (jenis topi dengan daun panjang yang menonjol), ti’I langga bebelak (jenis topi yang berbentuk rata pada bagian atas), ti’I langga bu’uhak (jenis topi yang berbentuk persegi), ti’I langga bu’ukoak (jenis topi dengan ujung belakangnya berbentuk bulu ayam), ti’I langga pisak (jenis topi dengan daun kasar yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari), dan ti’ilangga musu (jenis topi dengan daun tegak yang hanya dipakai saat perang).
Jumlah setiap lekukan jambul adalah 18 lekukan yang melambangkan jumlah kerajaan atau nusak yang ada di pulau Rote. Ke-18 lekukan pada jambul dibelah oleh satu garis lurus yang melambangkan keseimbangan. Pada bagian atas badan ti’ilangga terdapat sebuah garis lurus yang berfungsi memperkuat jambul diikat sampai bagian belakang melambangkan pemerataan.
Pada setiap pinggir ti’ilangga terdapat banyak ujung daun yang tersusun dengan rapi dan disatukan oleh tiga lingkaran. Ujung-ujung daun tersebut menggambarkan masyarakat Rote yang disatukan dalam suatu struktur pemerintahan yang kuat.
Kekuatan system tersebut ditandai dengan melingkarnya dua garis pada setiap lingkaran untuk mempererat ujung ujung daun yang tersusun pada pinggir ti’ilangga. Bagian dalam ti’ilangga terdapat lipatan pada bagian kiri dan kanan yang berfungsi sebagai tempat persembunyian benda-benda berharga seperti uang, emas, tembakau, dan lain-lainnya.
Dahulu ti’ilangga hanya memiliki dua jenis, yaitu jenis ikan pari dan jenis kura-kura, namun kini jenisnya semakin banyak, seperti ti’ilangga do sela (jenistopi yang berdaun kasar), ti’ilangga do lutu (jenis topi yang berdaun halus), ti’ilanggaa’angguk (jenis topi dengan daun panjang yang menonjol), ti’I langga bebelak (jenis topi yang berbentuk rata pada bagian atas), ti’I langga bu’uhak (jenis topi yang berbentuk persegi), ti’I langga bu’ukoak (jenis topi dengan ujung belakangnya berbentuk bulu ayam), ti’I langga pisak (jenis topi dengan daun kasar yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari), dan ti’ilangga musu (jenis topi dengan daun tegak yang hanya dipakai saat perang).
Makna ti’Ilangga
Tak hanya sekedar topi tradisional, ternyata ti’Ilangga juga memiliki makna mendalam lho, terutama bagi masyarakat Rote. Ti’Ilangga ini identik dengan jambul yang memiliki tinggi 40 sampai 60 cm. Jambul tersebut terdiri atas 9 tingkat dan setiap tingkat terdapat 2 lekukan.Jumlah setiap lekukan jambul adalah 18 lekukan yang melambangkan jumlah kerajaan atau nusak yang ada di pulau Rote. Ke-18 lekukan pada jambul dibelah oleh satu garis lurus yang melambangkan keseimbangan. Pada bagian atas badan ti’ilangga terdapat sebuah garis lurus yang berfungsi memperkuat jambul diikat sampai bagian belakang melambangkan pemerataan.
Pada setiap pinggir ti’ilangga terdapat banyak ujung daun yang tersusun dengan rapi dan disatukan oleh tiga lingkaran. Ujung-ujung daun tersebut menggambarkan masyarakat Rote yang disatukan dalam suatu struktur pemerintahan yang kuat.
Kekuatan system tersebut ditandai dengan melingkarnya dua garis pada setiap lingkaran untuk mempererat ujung ujung daun yang tersusun pada pinggir ti’ilangga. Bagian dalam ti’ilangga terdapat lipatan pada bagian kiri dan kanan yang berfungsi sebagai tempat persembunyian benda-benda berharga seperti uang, emas, tembakau, dan lain-lainnya.
Lihat Juga :