Review Film Elegi Melodi: Nyanyian di Antara Hidup, Mimpi, dan Mati
Rabu, 03 Januari 2024 - 15:02 WIB
Jika ditilik dari sudut pandang Rio, penonton juga bisa melihat bahwa saat mengetahui seseorang yang disayangi akan pergi, kita akan berupaya memenuhi keinginan terakhirnya. Meski keinginan tersebut bisa jadi terdengar dangkal, tidak jelas, sederhana, atau bahkan sulit sekali pun.
Namun, jika diresapi lebih dalam, memang cocok jika lagu tersebut termasuk ke dalam elegi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, elegi bermakna syair atau nyanyian yang mengandung ratapan dan ungkapan dukacita (khususnya pada peristiwa kematian).
Berdasarkan liriknya, nyanyian ini jelas menunjukkan duka dari jiwa seorang manusia, jiwa Melodi. Elegi ini juga seolah bisa menjadi rangkuman sekaligus jawaban dari perjalanan hidup Melodi. Ketersesatannya, kebingungannya dalam memilih 'jalan', serta harapan yang memupuk semangatnya.
Pada beberapa lirik pertama, terdengar Melodi menceritakan kebingungannya dalam hidup yang dijalaninya, kekecewaan karena yang ditanamnya tidak memberikan hasil yang baik, rasa kehilangan dirinya sendiri yang dialaminya, dan orang-orang terdekatnya yang terasa begitu asing.
Namun, dalam lirik-lirik terakhir, Melodi akhirnya menemukan sebuah harapan. Dialah si bunga matahari yang telah terlunta-lunta didera hujan, tetapi tetap yakin matahari akan menyinarinya. Seorang manusia yang meski hidup telah memberinya banyak rasa sakit, tetap ia meyakini bahwa kebahagiaan itu akan tiba. Di ujung sana, mimpi itu akan terwujud. Cepat atau lambat.
Melalui perjalanan Melodi untuk mewujudkan mimpinya terakhirnya sekaligus sebagai persiapannya menghadapi kematian, barangkali penonton diajak merenung sejenak. Apa yang akan dilakukan jika kita memiliki 'bocoran' informasi sisa waktu yang dimiliki untuk hidup?
Akankah kita meninggalkan segala hal yang “semu” dan memfokuskan diri untuk memenuhi hal yang sebenarnya kita inginkan?
Hal-hal yang krusial dan bisa mengisi penuh jiwa kita, seperti impian atau cita-cita.
Baca Juga: CERMIN: Waluyo Kehilangan Uang, Rumah, Keluarga, dan Harga Dirinya
Akankah kita mampu menanggalkan segala kekhawatiran dan hiruk pikuk dunia serta memilih menggunakan sisa waktu itu untuk menikmati hidup sebaik mungkin?
Di balik kemasannya yang sederhana dan diselimuti komedi, Elegi Melodi jika ditelusuri lebih jauh adalah film yang bisa membuat kita termenung dan menarik napas dalam-dalam.Tak ayal film ini masuk ke dalam salah satu nomine film pendek terbaik dalam FFI 2018.
Elis S.M.
Pegawai kantoran, sedang belajar menulis dan bercerita
Elegi Melodi
Sejak awal diperlihatkan bahwa lagu yang dinyanyikan Melodi dianggap sebagai lagu yang 'norak' baik secara audio maupun visual. Asumsi tersebut dibangun melalui beberapa adegan, seperti ekspresi kikuk Stella, ekspresi malu Rio, dan ekspresi sejumlah pelayat yang menahan senyum saat video musik diputar di pemakaman. Selain itu, adegan kebingungan Akmal dan orang-orang yang ada di rumah makan juga menunjukkan anggapan serupa.Namun, jika diresapi lebih dalam, memang cocok jika lagu tersebut termasuk ke dalam elegi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, elegi bermakna syair atau nyanyian yang mengandung ratapan dan ungkapan dukacita (khususnya pada peristiwa kematian).
Berdasarkan liriknya, nyanyian ini jelas menunjukkan duka dari jiwa seorang manusia, jiwa Melodi. Elegi ini juga seolah bisa menjadi rangkuman sekaligus jawaban dari perjalanan hidup Melodi. Ketersesatannya, kebingungannya dalam memilih 'jalan', serta harapan yang memupuk semangatnya.
Pada beberapa lirik pertama, terdengar Melodi menceritakan kebingungannya dalam hidup yang dijalaninya, kekecewaan karena yang ditanamnya tidak memberikan hasil yang baik, rasa kehilangan dirinya sendiri yang dialaminya, dan orang-orang terdekatnya yang terasa begitu asing.
Namun, dalam lirik-lirik terakhir, Melodi akhirnya menemukan sebuah harapan. Dialah si bunga matahari yang telah terlunta-lunta didera hujan, tetapi tetap yakin matahari akan menyinarinya. Seorang manusia yang meski hidup telah memberinya banyak rasa sakit, tetap ia meyakini bahwa kebahagiaan itu akan tiba. Di ujung sana, mimpi itu akan terwujud. Cepat atau lambat.
Melalui perjalanan Melodi untuk mewujudkan mimpinya terakhirnya sekaligus sebagai persiapannya menghadapi kematian, barangkali penonton diajak merenung sejenak. Apa yang akan dilakukan jika kita memiliki 'bocoran' informasi sisa waktu yang dimiliki untuk hidup?
Akankah kita meninggalkan segala hal yang “semu” dan memfokuskan diri untuk memenuhi hal yang sebenarnya kita inginkan?
Hal-hal yang krusial dan bisa mengisi penuh jiwa kita, seperti impian atau cita-cita.
Baca Juga: CERMIN: Waluyo Kehilangan Uang, Rumah, Keluarga, dan Harga Dirinya
Akankah kita mampu menanggalkan segala kekhawatiran dan hiruk pikuk dunia serta memilih menggunakan sisa waktu itu untuk menikmati hidup sebaik mungkin?
Di balik kemasannya yang sederhana dan diselimuti komedi, Elegi Melodi jika ditelusuri lebih jauh adalah film yang bisa membuat kita termenung dan menarik napas dalam-dalam.Tak ayal film ini masuk ke dalam salah satu nomine film pendek terbaik dalam FFI 2018.
Elis S.M.
Pegawai kantoran, sedang belajar menulis dan bercerita
(ita)
Lihat Juga :