Benarkah Keseringan Kerja Shift Malam Picu Jantung Koroner?

Kamis, 04 Januari 2024 - 09:39 WIB
Awalnya plak ukuran kecil menempel pada dinding pembuluh arteri koroner, namun lama-lama plak makin banyak sehingga penyempitan makin besar. Akibatnya darah terhambat tidak bisa mengalir pada bagian otot jantung tertentu, di situlah timbul rasa nyeri pada bagian dada seperti tertimpa beban berat dan menjalar ke punggung atau lengan.

“Gejala ini biasanya bisa berkurang dengan istirahat, namun jika tidak ditangani dengan tepat, penyakit makin parah dan gejalanya pun makin berat dan tidak berkurang walaupun istirahat,” terang Firman di Surabaya belum lama ini.

Dia mengatakan, penyebab paling sering penyakit tersebut adalah gaya hidup tidak sehat seperti pola makan, kurang beraktivitas, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, dan stres. Namun, banyak orang belum menyadari bahwa pola tidur yang rendah juga bisa berisiko 3 kali lebih besar mengalami penyakit jantung koroner daripada orang dengan pola tidur yang bagus.

Firman menjelaskan, sebuah penelitian longitudinal yang dilakukan oleh Shen et al (2023) pada 400.000 orang di Taiwan, yang diikuti selama 5 tahun, menemukan bahwa orang dengan kualitas tidur yang rendah dan durasi tidur kurang dari 4 jam per hari, sebanyak 34% mengalami penyakit jantung koroner.

Pada saat yang sama, salah satu alasan pola tidur rendah karena bergadang atau jaga malam. Untuk melihat hubungan keduanya, studi Brigham and Women's Hospital dan Harvard Medical School (HMS) di Amerika Serikat menjelaskan bahwa bekerja shift malam selama 10 tahun berisiko 15-18 persen lebih tinggi bisa mengalami penyakit jantung koroner.

Baca Juga: Manfaat Minum Wedang Jahe bagi Penderita Diabetes, Bisa Turunkan Gula Darah
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!