CERMIN: Keluar Main 1994 dan Surat Cinta untuk Sinema Makassar
Jum'at, 29 Maret 2024 - 15:26 WIB
Hanya saja sinema Makassar, sebagaimana kebanyakan film nasional sekalipun, hampir selalu bertumpu pada skenario yang tak sepenuhnya matang.
Di atas kertas, ide cerita yang dirakit penulis Elvin Miradi punya potensi untuk melampaui film-film produksi rumah produksi besar (nasional) yang semakin lama terasa semakin generik. Kelemahan yang hampir selalu tak disadari oleh penulis adalah bahwa tokoh utama terlalu punya banyak keinginan.
Ini yang akhirnya mengalirkan subplot-subplot yang sering kali terasa berusaha mengambil alih fokus utama cerita. Akhirnya membuat terlalu banyak hal yang ingin disampaikan dalam filmnya.
Hasilnya adalah film baru terasa dimulai setelah 40 menit durasi berjalan alias melewati babak 1 ketika Pak Amrizal mengumumkan Lomba Football ala Amrizal (Futzal).
Yang juga menjadi catatan dari film bergenre komedi adalah keinginan untuk berusaha melucu terlalu keras tanpa memikirkan terlebih dahulu untuk membangun pondasi cerita yang solid. Padahal seharusnya logikanya di balik, perlu skenario solid terlebih dahulu dan setelahnya barulah kelucuan demi kelucuan bisa dihadirkan dengan tepat.
Mau pemain sekaliber Arif Brata dan Arie Kriting sekalipun, tak bisa menolong skenario yang loyo di banyak titik untuk memunculkan tawa.
Foto: DL Entertainment
Padahal pendekatan untuk menjadikan film ini terasa komikal adalah pendekatan yang menarik dan berani. Seperti adegan sperma yang berkejar-kejaran demi mendapatkan Alisha Mellong itu absurd, lucu, dan segar.
Sayangnya pendekatan ini tak berani didorong hingga ke titik maksimal dan dihadirkan dalam banyak adegan, agar sekalian saja menghadirkan kelucuan yang absurd dan terasa tak setengah hati.
Bagi saya yang memang mengalami tahun 1994, beberapa detail terasa cukup mengganggu. Seperti misalnya penyebutan Ujung Pandang, padahal pada tahun itu ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan sudah beralih nama kembali menjadi Makassar beberapa tahun sebelumnya.
Juga soal uang Rp100 yang pada tahun itu sesungguhnya tak terlalu berharga. Saya ingat betul pada tahun itu sudah diberi uang jajan Rp2.500. Naik pete-pete (angkot ala Makassar) pun sudah dibandrol Rp500.
Dua hal yang paling menganggu adalah soal penggunaan lomba Bola Matematika dan penggunaan judul Keluar Main 1994. Saya tak merasakan bagaimana efek penggunaan lomba ini pada perkembangan cerita maupun perkembangan karakter Ibo (diperankan Arif Brata) karena semuanya dituturkan via dialog, tak diperlihatkan secara visual.
Di atas kertas, ide cerita yang dirakit penulis Elvin Miradi punya potensi untuk melampaui film-film produksi rumah produksi besar (nasional) yang semakin lama terasa semakin generik. Kelemahan yang hampir selalu tak disadari oleh penulis adalah bahwa tokoh utama terlalu punya banyak keinginan.
Ini yang akhirnya mengalirkan subplot-subplot yang sering kali terasa berusaha mengambil alih fokus utama cerita. Akhirnya membuat terlalu banyak hal yang ingin disampaikan dalam filmnya.
Hasilnya adalah film baru terasa dimulai setelah 40 menit durasi berjalan alias melewati babak 1 ketika Pak Amrizal mengumumkan Lomba Football ala Amrizal (Futzal).
Yang juga menjadi catatan dari film bergenre komedi adalah keinginan untuk berusaha melucu terlalu keras tanpa memikirkan terlebih dahulu untuk membangun pondasi cerita yang solid. Padahal seharusnya logikanya di balik, perlu skenario solid terlebih dahulu dan setelahnya barulah kelucuan demi kelucuan bisa dihadirkan dengan tepat.
Mau pemain sekaliber Arif Brata dan Arie Kriting sekalipun, tak bisa menolong skenario yang loyo di banyak titik untuk memunculkan tawa.
Foto: DL Entertainment
Padahal pendekatan untuk menjadikan film ini terasa komikal adalah pendekatan yang menarik dan berani. Seperti adegan sperma yang berkejar-kejaran demi mendapatkan Alisha Mellong itu absurd, lucu, dan segar.
Sayangnya pendekatan ini tak berani didorong hingga ke titik maksimal dan dihadirkan dalam banyak adegan, agar sekalian saja menghadirkan kelucuan yang absurd dan terasa tak setengah hati.
Bagi saya yang memang mengalami tahun 1994, beberapa detail terasa cukup mengganggu. Seperti misalnya penyebutan Ujung Pandang, padahal pada tahun itu ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan sudah beralih nama kembali menjadi Makassar beberapa tahun sebelumnya.
Juga soal uang Rp100 yang pada tahun itu sesungguhnya tak terlalu berharga. Saya ingat betul pada tahun itu sudah diberi uang jajan Rp2.500. Naik pete-pete (angkot ala Makassar) pun sudah dibandrol Rp500.
Dua hal yang paling menganggu adalah soal penggunaan lomba Bola Matematika dan penggunaan judul Keluar Main 1994. Saya tak merasakan bagaimana efek penggunaan lomba ini pada perkembangan cerita maupun perkembangan karakter Ibo (diperankan Arif Brata) karena semuanya dituturkan via dialog, tak diperlihatkan secara visual.
Lihat Juga :