Mengenal Ibnu Batuttah, Backpacker Legend Muslim Abad ke-14

Sabtu, 23 November 2024 - 10:53 WIB

Warisan Ibnu Batutah

Ibnu Batutah meninggal di Maroko pada 1368/69 atau 1377. Dia dikllaim sebagai "pelancong Islam" yang jangkauan pengembaraannya sekira 75.000 mil (120.000 km), angka yang hampir tidak dapat dilampaui oleh siapa pun sebelum zaman tenaga uap.

Namun, yang perlu dicatat, dia tidak mengunjungi Persia tengah, Armenia, dan Georgia. Meski dia tidak menemukan negeri baru atau yang tidak dikenal dan kontribusinya terhadap geografi ilmiah sangat minim, nilai dokumenter dari karyanya telah memberinya signifikansi historis dan geografis yang langgeng.

Ia bertemu dengan sedikitnya 60 penguasa dan lebih banyak lagi wazir, gubernur dan pejabat tinggi lainnya; dalam bukunya, dia menyebutkan lebih dari 2.000 orang yang dikenalnya secara pribadi atau yang makamnya ia kunjungi.

Mayoritas orang-orang tersebut dapat diidentifikasi oleh sumber-sumber independen, dan secara mengejutkan hanya ada sedikit kesalahan dalam nama atau tanggal dalam materi Ibnu Battutah.

Secara keseluruhan, Ibnu Battutah dapat diandalkan; hanya dugaan perjalanannya ke Bulgaria yang terbukti dibuat-buat, dan ada beberapa keraguan mengenai bagian Asia Timur dari perjalanannya.

Beberapa perbedaan serius dan kecil dalam kronologi perjalanannya lebih disebabkan oleh kelalaian dalam ingatannya daripada rekayasa yang disengaja. Sejumlah poin yang sebelumnya tidak pasti, seperti perjalanan di Asia Kecil dan kunjungan ke Konstantinopel telah disingkirkan oleh penelitian kontemporer dan penemuan sumber-sumber baru yang menguatkan.

Aspek menarik lain dari Riḥlah adalah pengungkapan karakter Ibnu Battuta secara bertahap; dalam perjalanan narasi, pembaca dapat mempelajari pendapat dan reaksi seorang Muslim kelas menengah rata-rata pada abad ke-14.

Baca Juga: Kisah Pengembaraan Ibnu Batutah Sepanjang 120.000 Kilometer selama 30 Tahun

Dia berakar kuat dalam Islam ortodoks tetapi, seperti banyak orang sezamannya, terombang-ambing antara pengejaran formalisme legislatifnya dan kepatuhan pada jalan mistik dan berhasil menggabungkan keduanya.

Dia tidak menawarkan filosofi yang mendalam, tetapi menerima kehidupan sebagaimana adanya, meninggalkan kepada anak cucu gambaran yang sebenarnya tentang dirinya dan zamannya.
(tdy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!