Dukung Kesadaran Kesehatan Reproduksi, Bayer Rilis Situs Bicaraperempuan

Senin, 21 April 2025 - 15:20 WIB
dr. Boy Abidin, SpOG, Subsp. FER, Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Fertilitas Endokrinologi Reproduksi menjelaskan, “Akses terhadap informasi tentang kesehatan reproduksi perempuan yang akurat dan mudah dipahami harus terus ditingkatkan. Hingga saat ini, masih banyak perempuan yang merasa malu atau enggan membicarakan topik menstruasi atau gangguan reproduksi, dan akibatnya mereka justru tidak menyadari dampak yang mungkin akan mereka hadapi kelak.”

Baca Juga: 5 Makanan Indonesia Masuk Daftar Hidangan Terbaik di Dunia, Rawon Geser Rendang

Kesehatan reproduksi sering kali dibayangi stigma dan kurangnya informasi yang valid. Banyak perempuan masih menormalisasi dan merasa tabu membicarakan isu seperti nyeri haid berlebih atau PMB, padahal kondisi tersebut bisa berdampak serius, seperti anemia dan penurunan kualitas hidup. PMB sendiri dialami oleh 1 dari 3 perempuan, mengacu pada perdarahan menstruasi yang berlangsung lebih dari tujuh hari atau volume darah yang berlebihan dari kondisi normal. Selain perdarahan menstruasi berat, masalah reproduksi yang kerap terlambat diagnosis yaitu endometriosis. Endometriosis secara global memengaruhi sekitar 1 dari 9 perempuan usia produktif, namun sering kali terlambat terdiagnosis akibat minimnya kesadaran dan pengetahuan.

“Normalisasi terhadap kondisi yang sebetulnya tidak normal merupakan sebuah stigma yang harus diluruskan. Misalnya “Normal” pada menstruasi juga berbeda-beda pada setiap perempuan, namun tetap ada batasan normal yang perlu dipelajari. Normalnya, siklus menstruasi rata-rata berlangsung selama 28 hari, namun periode antara 21-35 hari juga masih dianggap normal. Berikutnya, untuk darah menstruasi yang keluar maksimal adalah 80 cc per hari. Jika seseorang melewati batas normal tersebut, maka sudah masuk dalam kategori tidak normal dan perlu segera mendapatkan penanganan. Begitu pula dengan sakit pada saat menstruasi dapat menjadi indikasi awal endometriosis pada perempuan,” lanjut dr. Boy.

Ia menambahkan bahwa pemahaman tentang kesehatan reproduksi tidak hanya penting dalam konteks diagnosis, tetapi juga dalam pengambilan keputusan yang tepat mengenai kontrasepsi. Saat ini, kontrasepsi modern seperti pil KB dan IUD hormonal tidak hanya berfungsi untuk mencegah kehamilan, tetapi juga memiliki manfaat sebagai terapi untuk masalah reproduksi dan meningkatkan kualitas hidup, seperti terapi untuk PMB dan gangguan hormonal. Salah satu kondisi hormonal yang umum terjadi pada perempuan adalah hiperandrogen, yang dapat dialami oleh 1 dari 5 perempuan usia produktif.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!