Mata Minus Bisa Direm: Fakta Ortho-K untuk Anak dan Remaja
Rabu, 18 Juni 2025 - 21:31 WIB
Baca juga: Mata Silinder dan Minus, Nikita Willy Pilih Lakukan Operasi Lasik dengan Proses Pengerjaan 10 Detik
Miopia menjadi salah satu gangguan penglihatan yang paling banyak ditemukan, dengan sekitar 65 juta anak di seluruh dunia menderita miopia pada tahun 2023. Angka ini diperkirakan melonjak menjadi 275 juta anak pada tahun 2050 jika tidak ada upaya pencegahan dan pengendalian yang intensif dan menyeluruh.
Penelitian terbaru di Jakarta yang diterbitkan oleh The Open Public Health Journal 2023 mengungkap bahwa setelah pandemi, prevalensi gangguan refraksi pada anak sekolah dasar melonjak drastis menjadi 40%, dengan mayoritas belum pernah mendapatkan koreksi penglihatan.
Studi ini juga mencatat bahwa hanya 4% dari anak yang mengalami gangguan refraksi telah memakai kacamata sebelum pemeriksaan dilakukan, menunjukkan keterbatasan akses terhadap layanan mata yang memadai. Fenomena ini dikaitkan langsung dengan perubahan pola aktivitas selama pandemi—terutama pembelajaran daring dan penggunaan gawai secara intensif, yang berdampak pada percepatan progresi miopia.
Miopia yang tidak ditangani sejak dini dapat berkembang menjadi high myopia (lebih dari -6.00 dioptri), yang berisiko menyebabkan komplikasi serius seperti glaukoma, ablasi retina, dan katarak dini. Tak hanya berimbas pada kesehatan mata, kondisi ini juga berdampak pada prestasi akademik dan kualitas hidup anak secara keseluruhan.
Kesehatan mata yang baik terbukti berperan penting dalam pencapaian belajar; pemberian kacamata yang sesuai bahkan dapat menurunkan risiko kegagalan belajar hingga 44%. Gangguan refraksi yang tidak dikoreksi juga berkontribusi terhadap beban ekonomi, baik bagi keluarga maupun negara.
Beberapa studi menunjukkan bahwa gangguan penglihatan berkontribusi terhadap kerugian ekonomi akibat penurunan produktivitas, serta meningkatnya beban biaya kesehatan. Oleh karena itu, strategi promotif dan preventif seperti skrining dini dan peningkatan akses terhadap layanan mata menjadi sangat krusial.
Menanggapi tantangan ini, JEC Eye Hospitals and Clinics menghadirkan solusi komprehensif yang tidak hanya memperbaiki penglihatan, tetapi juga mencegah progresi miopia secara efektif. Salah satunya adalah terapi Orthokeratology (Ortho-K)—terapi non-bedah yang menggunakan lensa kontak khusus saat tidur untuk mengoreksi bentuk kornea, sehingga penglihatan di siang hari menjadi jelas tanpa perlu kacamata.
Miopia menjadi salah satu gangguan penglihatan yang paling banyak ditemukan, dengan sekitar 65 juta anak di seluruh dunia menderita miopia pada tahun 2023. Angka ini diperkirakan melonjak menjadi 275 juta anak pada tahun 2050 jika tidak ada upaya pencegahan dan pengendalian yang intensif dan menyeluruh.
Penelitian terbaru di Jakarta yang diterbitkan oleh The Open Public Health Journal 2023 mengungkap bahwa setelah pandemi, prevalensi gangguan refraksi pada anak sekolah dasar melonjak drastis menjadi 40%, dengan mayoritas belum pernah mendapatkan koreksi penglihatan.
Studi ini juga mencatat bahwa hanya 4% dari anak yang mengalami gangguan refraksi telah memakai kacamata sebelum pemeriksaan dilakukan, menunjukkan keterbatasan akses terhadap layanan mata yang memadai. Fenomena ini dikaitkan langsung dengan perubahan pola aktivitas selama pandemi—terutama pembelajaran daring dan penggunaan gawai secara intensif, yang berdampak pada percepatan progresi miopia.
Miopia yang tidak ditangani sejak dini dapat berkembang menjadi high myopia (lebih dari -6.00 dioptri), yang berisiko menyebabkan komplikasi serius seperti glaukoma, ablasi retina, dan katarak dini. Tak hanya berimbas pada kesehatan mata, kondisi ini juga berdampak pada prestasi akademik dan kualitas hidup anak secara keseluruhan.
Kesehatan mata yang baik terbukti berperan penting dalam pencapaian belajar; pemberian kacamata yang sesuai bahkan dapat menurunkan risiko kegagalan belajar hingga 44%. Gangguan refraksi yang tidak dikoreksi juga berkontribusi terhadap beban ekonomi, baik bagi keluarga maupun negara.
Beberapa studi menunjukkan bahwa gangguan penglihatan berkontribusi terhadap kerugian ekonomi akibat penurunan produktivitas, serta meningkatnya beban biaya kesehatan. Oleh karena itu, strategi promotif dan preventif seperti skrining dini dan peningkatan akses terhadap layanan mata menjadi sangat krusial.
Menanggapi tantangan ini, JEC Eye Hospitals and Clinics menghadirkan solusi komprehensif yang tidak hanya memperbaiki penglihatan, tetapi juga mencegah progresi miopia secara efektif. Salah satunya adalah terapi Orthokeratology (Ortho-K)—terapi non-bedah yang menggunakan lensa kontak khusus saat tidur untuk mengoreksi bentuk kornea, sehingga penglihatan di siang hari menjadi jelas tanpa perlu kacamata.
Lihat Juga :