52% Pekerja Alami Kelelahan Kerja Kronis, Gen Z Kelompok Paling Rentan

Jum'at, 10 Oktober 2025 - 10:31 WIB
Kondisi ini berdampak langsung pada produktivitas dan kesejahteraan karyawan, ditandai dengan peningkatan angka absensi dan penurunan produktivitas kerja. Tidaksedikit pekerja yang secara fisik hadir di tempat kerja, namun secara mental mengalami kelelahan dan kehilangan semangat kerja.

Biaya yang hilang akibat penurunan produktivitas karena stres kerja diperkirakan mencapai USD 300 hingga USD 900 per karyawan per bulan.Kartika Amelia, pakar HR dari HCC (Human Care Consulting), mengungkapkan bahwa perusahaan yang belum memiliki sistem deteksi dan penanganan stres secara dini sering terlambat menyadari turunnya performa tim. Penurunan performa ini lebih disebabkan oleh beban mental tidak terkelola daripada kemampuan yang menurun yang berakibat terjadinya kelelahan kerja kronis.

Baca Juga : Studi: Jalan Kaki 5.000 Langkah Sehari Kurangi Risiko Depresi

“Burn out bukan sekadar isu personal. Tanpa deteksi dini, Perusahaan bisa kehilangan produktivitas yang nilainya bisa mencapai puluhan juta rupiah per karyawan setiap bulan,” katanya.

Menanggapi situasi ini, Kartika merekomendasikan pengembangan Psychological Check-Up (PCU) sebagai solusi strategis penting. PCU merupakan skrining sederhana namun menyeluruhyang memungkinkan individu dan organisasi mengenali tingkat stres, kecemasan, dan kondisi psikologis secara jujur dan ilmiah.

“Dari pengalaman HCC mengelola program PCU, data hasilPCU membuka pintu bagi intervensi yang tepat, seperti sesi konseling profesional oleh psikolog bersertifikat, pelatihan ketahanan mental, dan program kesejahteraan yang personal dan

berbasis bukti,” jelasnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!