Memahami Perbedaan Krusial Transplantasi Rambut DHI Asli dan Palsu
Senin, 17 November 2025 - 20:30 WIB
DHI Implanter dapat mengatur kedalaman, arah, dan sudut tumbuh rambut, sehingga hasilnya terlihat alami dan tidak meninggalkan jaringan parut.
Seluruh proses dilakukan langsung oleh dokter yang telah menempuh pendidikan untuk memenuhi standard DHI Global bukan oleh teknisi atau asisten.
Folikel rambut juga segera ditanam setelah diambil untuk memastikan tingkat keberhasilan mencapai 97%, jauh di atas rata-rata metode konvensional.
Dalam melakukan perhitungan kebutuhan rambut, DHI klinik diseluruh dunia melakukan perhitungan secara detail untuk setiap orangnya, disesuaikan dengan bentuk wajah, kondisi rambut saat ini, yang membuat hasilnya 100% natural.
Perhitungan yang sangat personal ini menyebabkan klinik - klinik DHI di seluruh dunia tidak mengenal istilah maximum graft untuk kebutuhan transplantasinya.
Sebaliknya, prosedur yang disebut “DHI” di banyak klinik tidak jarang hanyalah modifikasi dari metode FUE konvensional. Klinik semacam ini biasanya tetap melakukan dua langkah yaitu membuat saluran, lalu menanam folikel, namun melabelinya sebagai DHI untuk meningkatkan prestise.
Dr. Cintawati Farmanina pendiri Farmanina Hair & Aesthetic Clinic (representatif resmi DHI Global di Indonesia) menyampaikan, prosedur seperti itu kerap dilakukan oleh klinik yang bukan representatif dan tidak memenuhi standard.
Mereka tidak memiliki sertifikasi resmi dari DHI Global dan tidak mengikuti protokol sterilisasi atau batas waktu penanaman graft yang ketat.
Akibatnya, lanjut dia, banyak pasien yang mengeluhkan hasil yang tidak alami. Kepadatan rambut tidak merata, arah tumbuh salah, hingga munculnya jaringan parut yang tampak jelas.
Seluruh proses dilakukan langsung oleh dokter yang telah menempuh pendidikan untuk memenuhi standard DHI Global bukan oleh teknisi atau asisten.
Folikel rambut juga segera ditanam setelah diambil untuk memastikan tingkat keberhasilan mencapai 97%, jauh di atas rata-rata metode konvensional.
Dalam melakukan perhitungan kebutuhan rambut, DHI klinik diseluruh dunia melakukan perhitungan secara detail untuk setiap orangnya, disesuaikan dengan bentuk wajah, kondisi rambut saat ini, yang membuat hasilnya 100% natural.
Perhitungan yang sangat personal ini menyebabkan klinik - klinik DHI di seluruh dunia tidak mengenal istilah maximum graft untuk kebutuhan transplantasinya.
Sebaliknya, prosedur yang disebut “DHI” di banyak klinik tidak jarang hanyalah modifikasi dari metode FUE konvensional. Klinik semacam ini biasanya tetap melakukan dua langkah yaitu membuat saluran, lalu menanam folikel, namun melabelinya sebagai DHI untuk meningkatkan prestise.
Dr. Cintawati Farmanina pendiri Farmanina Hair & Aesthetic Clinic (representatif resmi DHI Global di Indonesia) menyampaikan, prosedur seperti itu kerap dilakukan oleh klinik yang bukan representatif dan tidak memenuhi standard.
Mereka tidak memiliki sertifikasi resmi dari DHI Global dan tidak mengikuti protokol sterilisasi atau batas waktu penanaman graft yang ketat.
Akibatnya, lanjut dia, banyak pasien yang mengeluhkan hasil yang tidak alami. Kepadatan rambut tidak merata, arah tumbuh salah, hingga munculnya jaringan parut yang tampak jelas.
Lihat Juga :