Ini Makna Filosofis di Balik Ritual Cuci Rupang dan Nyala Lilin Jelang Perayaan Imlek
Minggu, 15 Februari 2026 - 20:10 WIB
"Kalau kita filosofinya sebenarnya kalau untuk menyambut Imlek ini memang kita wajib yang namanya untuk bersih-bersih dan juga supaya kelihatan satu tempat nyaman dan juga bersih kan apalagi kita tempat ibadah kan, wajib yang namanya untuk bersih supaya umat yang datang ke sini berdoa dan beribadah itu menjadi nyaman," kata Hendro saat diwawancarai, Minggu (15/2/2026).
Ia menjelaskan bahwa, ada tata cara tersendiri dalam proses pencucian rupang. Proses tersebut harus dimulai dengan ritual doa sebagai bentuk permohonan izin kepada para dewa-dewi. Selain itu, air yang digunakan juga haruslah air bunga.
"Kalau untuk memandikan rupang itu kita ada yang namanya pertama harus ada ritual dulu. Nah, itu adalah kita berdoa dulu seperti meminta izin kepada dewa-dewi yang ada di sini. Kemudian setelah kita berdoa baru kita memandikan dan memandikannya dengan air bunga,” ucap dia.
Baca Juga : Imlek Nasional 2026 Berlangsung 17 Februari–3 Maret, Puncak Acara di Lapangan Banteng
Hendro menegaskan bahwa penggunaan bunga tidak ada hubungannya dengan hal mistis. Air bungan digunakan agar memberikan sentuhan wewangian yang alami kepada rupang. "Bukan semata-mata bunga harus yang macam-macam atau dikaitkan dengan hal mistis bukan. Kita supaya patung dewa-dewinya ini satu biar supaya bersih dan juga yang kedua supaya dia wangi seperti itu," tegas Hendro.
Ia menjelaskan bahwa, ada tata cara tersendiri dalam proses pencucian rupang. Proses tersebut harus dimulai dengan ritual doa sebagai bentuk permohonan izin kepada para dewa-dewi. Selain itu, air yang digunakan juga haruslah air bunga.
"Kalau untuk memandikan rupang itu kita ada yang namanya pertama harus ada ritual dulu. Nah, itu adalah kita berdoa dulu seperti meminta izin kepada dewa-dewi yang ada di sini. Kemudian setelah kita berdoa baru kita memandikan dan memandikannya dengan air bunga,” ucap dia.
Baca Juga : Imlek Nasional 2026 Berlangsung 17 Februari–3 Maret, Puncak Acara di Lapangan Banteng
Hendro menegaskan bahwa penggunaan bunga tidak ada hubungannya dengan hal mistis. Air bungan digunakan agar memberikan sentuhan wewangian yang alami kepada rupang. "Bukan semata-mata bunga harus yang macam-macam atau dikaitkan dengan hal mistis bukan. Kita supaya patung dewa-dewinya ini satu biar supaya bersih dan juga yang kedua supaya dia wangi seperti itu," tegas Hendro.
Lihat Juga :