Menjelajah Batavia Lama, Jejak Bung Karno hingga Charlie Chaplin di Kota Tua Jakarta

Jum'at, 26 Juni 2026 - 18:50 WIB
Di samping bathtub berdiri tempat tidur dengan gazebo kayu lain bertuliskan Circus Charlie Chaplin. Dominasi kayu terlihat hampir di seluruh bagian kamar. Sebuah ruang duduk kecil melengkapi area istirahat. Dinding televisi dapat dilipat sehingga tamu bisa menonton dari tempat tidur.

Amanda menjelaskan, Charlie Chaplin datang ke Hindia Belanda atas undangan jaringan bisnis Oei Tiong Ham, kakek buyut pendiri Tugu Group, Anhar Setjadibrata. ”Saat itu kelompok usaha Oei Tiong Ham juga bergerak di bidang distribusi film,” terangnya.

Tarif Charlie Chaplin Suite mencapai Rp16 juta per malam. Harga tersebut sudah termasuk sarapan, afternoon tea, welcome massage, dan hotel tour. Di lantai yang sama terdapat dua Riverside Suite yang menghadap langsung ke Kali Besar di seberang hotel.

Nyonya Besar dan Para Concubine

Tidak jauh dari sana terdapat Nyonya Besar Suite. Amanda menjelaskan, istilah nyonya besar merujuk istri sah dalam keluarga-keluarga kaya Peranakan masa lalu. Sebaliknya, concubine atau selir memiliki ruang tersendiri dalam struktur keluarga saat itu. "Nyonya Besar Suite tarifnya sekitar Rp5,7 juta," katanya.

Kamar ini memiliki area kerja di belakang tempat tidur. Kamar mandinya didominasi marmer dengan detail klasik yang menawan. Tepat berhadapan terdapat kamar lain dengan konsep berbeda. Meskipun masih satu kategori, dekorasinya tidak pernah sama.

Di lantai empat terdapat empat kamar Concubine. Salah satunya menggunakan lantai parket kayu. Tema Peranakan klasik terasa sangat kuat. Meja kerja kembali ditempatkan di belakang tempat tidur sehingga tamu dapat bekerja sambil menonton televisi. Amanda menegaskan tidak ada satu pun suite yang memiliki dekorasi identik. "Sebanyak 25 suite di sini semuanya berbeda, termasuk warna dan koleksinya," ujarnya.

Membangkitkan Lagi Gedung Harmoni



Dari lantai tiga, perjalanan turun menuju area restoran. Sebelum tiba di tujuan, Amanda mengajak melihat area Borneo. Ruang terbuka ini dihiasi motif batik Kalimantan berukuran besar. Berbagai patung dari Papua, Sumatra, Sulawesi, Ambon, Kalimantan, dan Sumba berdiri mengelilingi area tersebut.

Di atas musala terdapat patung batu burung enggang raksasa. Amanda menjelaskan patung itu melambangkan sacred rhinoceros hornbill dari Kalimantan. Meja dan kursi panjang disediakan untuk tamu yang ingin bersantai.

Perjalanan kemudian berbelok menuju Borobudur Room. Ruangan ini memiliki patung Dhyani Buddha berukuran besar yang selesai dibuat pada 1957. Fungsi utamanya untuk pertemuan privat maupun jamuan makan.

Namun ruang paling monumental berada di bagian lain kompleks. Amanda menyebut Harmonie Hall. "Ini salah satu ruang favorit tamu internasional," katanya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!