Gaya Baru Anak Muda Indonesia Menyiapkan Karier Global
Jum'at, 26 Juni 2026 - 16:13 WIB
Pada Juni 2026, XJTLU juga menambah staf rekrutmen di Indonesia untuk memperluas layanan bagi calon mahasiswa. Kampus tersebut turut menjalin kerja sama dengan sejumlah institusi pendidikan di Indonesia, termasuk Binus University, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, dan Petra Christian University Surabaya.
Selain membuka akses pendidikan internasional, isu kecakapan teknologi juga menjadi perhatian. Professor Xi menyebut, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menuntut dunia pendidikan untuk beradaptasi tanpa kehilangan nilai utama pembelajaran.
“Tahun ini adalah tahun ke-20 universitas kami. Dunia di masa depan membutuhkan pilar baru, yaitu individu yang mampu bekerja berdampingan dengan AI,” katanya.
Ia menjelaskan, mahasiswa diperkenalkan dengan AI sejak tahun pertama, mulai dari pemahaman dasar, cara penggunaan, hingga etika AI. Pada tahun berikutnya, mahasiswa diarahkan menggunakan AI dalam berbagai bidang studi, seperti matematika, teknik, maupun ilmu sosial.
“Kami menggunakan AI untuk mendukung edukasi, melakukan upgrade, restructure, dan reshape. Tapi, kami tidak ingin menggunakan AI untuk menggantikan edukasi,” ujar Professor Xi.
“Jika ada manusia, edukasi akan bertahan sepanjang masa. Filosofi kami adalah X plus AI, bukan AI plus X. Dari AI, tak hanya belajar namun juga bertahan untuk masa depan,” pungkasnya.
Selain membuka akses pendidikan internasional, isu kecakapan teknologi juga menjadi perhatian. Professor Xi menyebut, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menuntut dunia pendidikan untuk beradaptasi tanpa kehilangan nilai utama pembelajaran.
“Tahun ini adalah tahun ke-20 universitas kami. Dunia di masa depan membutuhkan pilar baru, yaitu individu yang mampu bekerja berdampingan dengan AI,” katanya.
Ia menjelaskan, mahasiswa diperkenalkan dengan AI sejak tahun pertama, mulai dari pemahaman dasar, cara penggunaan, hingga etika AI. Pada tahun berikutnya, mahasiswa diarahkan menggunakan AI dalam berbagai bidang studi, seperti matematika, teknik, maupun ilmu sosial.
“Kami menggunakan AI untuk mendukung edukasi, melakukan upgrade, restructure, dan reshape. Tapi, kami tidak ingin menggunakan AI untuk menggantikan edukasi,” ujar Professor Xi.
“Jika ada manusia, edukasi akan bertahan sepanjang masa. Filosofi kami adalah X plus AI, bukan AI plus X. Dari AI, tak hanya belajar namun juga bertahan untuk masa depan,” pungkasnya.
(dra)
Lihat Juga :