Benarkah Penyitas Covid-19 Tak Akan Terinfeksi Lagi?
Selasa, 03 November 2020 - 14:15 WIB
Sebelum penelitian ini, tim peneliti lain yang digawangi oleh Lauren Rodda, PhD ahli di bidang Imunologi dari University of Washington School of Medicine, juga melakukan studi terkait imunitas setelah terinfeksi. Studi yang Rodda lakukan menemukan: antibodi dapat melawan virus setidaknya dalam waktu tiga bulan.
Rodda mengatakan, pihaknya menemukan fakta penyintas Covid-19 dengan kasus ringan, memiliki memori sel B dan memori sel T. Sel memori ini menjadikan sistem imun kita mengenali kembali virus yang masuk ke tubuh sewaktu infeksi pertama. Sehingga sistem imun kemudian bergerak lebih cepat dan kuat melawan virus corona yang masuk ke dalam tubuh kembali. (Baca juga: Ribuan Formasi CPNS Guru Kosong, Ini Langkah Kemendikbud)
Artinya, jika orang terpapar virus kembali, sel-sel tersebut bersama antibodi akan melindungi tubuh dari gejala dan transmisi lebih lanjut. Menurut Rodda, memori imun tubuh terhadap penyakit seperti campak bisa bertahan tahunan. Jadi bukan tidak mungkin ini juga berlaku bagi Covid-19.
Dalam penelitian lain yang dipublikasikan di The New England Journal of Medicine, peneliti di Islandia meneliti 1.070 penyintas Covid-19 dan memeriksa antibodi yang dimiliki responden. Setelah empat bulan berselang, mereka menemukan antibodi antivirus tersebut yang melawan Covid-19 masih ada dan tidak menurun.
Akan tetapi, Dr. Steven Sperber kepala divisi penyakit infeksi dari Hackensack University Medical Center menegaskan bahwa masih banyak yang peneliti tidak tahu dari SARS-CoV-2 karena virus ini masih baru. Ada beberapa pertanyaan yang masih perlu dijawab seperti apakah kita akan terlindung setelah terinfeksi dan berapa lama?, apakah faktor usia berpengaruh terhadap imunitas?, apa cara terbaik untuk mengukur imunitas, apakah dengan mengukur antibodi?, apakah ada tipe spesifik antibodi yang bisa diukur?,dan berapa lama proteksi setelah divaksin?.
Rodda mengatakan, pihaknya menemukan fakta penyintas Covid-19 dengan kasus ringan, memiliki memori sel B dan memori sel T. Sel memori ini menjadikan sistem imun kita mengenali kembali virus yang masuk ke tubuh sewaktu infeksi pertama. Sehingga sistem imun kemudian bergerak lebih cepat dan kuat melawan virus corona yang masuk ke dalam tubuh kembali. (Baca juga: Ribuan Formasi CPNS Guru Kosong, Ini Langkah Kemendikbud)
Artinya, jika orang terpapar virus kembali, sel-sel tersebut bersama antibodi akan melindungi tubuh dari gejala dan transmisi lebih lanjut. Menurut Rodda, memori imun tubuh terhadap penyakit seperti campak bisa bertahan tahunan. Jadi bukan tidak mungkin ini juga berlaku bagi Covid-19.
Dalam penelitian lain yang dipublikasikan di The New England Journal of Medicine, peneliti di Islandia meneliti 1.070 penyintas Covid-19 dan memeriksa antibodi yang dimiliki responden. Setelah empat bulan berselang, mereka menemukan antibodi antivirus tersebut yang melawan Covid-19 masih ada dan tidak menurun.
Akan tetapi, Dr. Steven Sperber kepala divisi penyakit infeksi dari Hackensack University Medical Center menegaskan bahwa masih banyak yang peneliti tidak tahu dari SARS-CoV-2 karena virus ini masih baru. Ada beberapa pertanyaan yang masih perlu dijawab seperti apakah kita akan terlindung setelah terinfeksi dan berapa lama?, apakah faktor usia berpengaruh terhadap imunitas?, apa cara terbaik untuk mengukur imunitas, apakah dengan mengukur antibodi?, apakah ada tipe spesifik antibodi yang bisa diukur?,dan berapa lama proteksi setelah divaksin?.
Lihat Juga :