Diet Mediterania Bantu Kurangi Stres dan Tunda Penuaan
Jum'at, 20 November 2020 - 08:36 WIB
"Sayangnya, orang Amerika mengonsumsi makanan yang kaya protein hewani dan lemak jenuh, garam dan gula, jadi kami ingin mengetahui apakah diet tersebut memperburuk respons tubuh terhadap stres dibandingkan dengan diet Mediterania, di mana sebagian besar protein dan lemak berasal sumber tanaman," sambungnya.
Para peneliti mempelajari efek stres kronis dari status sosial yang rendah dan stres akut karena terisolasi secara sosial selama 30 menit pada 38 hewan paruh baya yang diberi makan makanan Mediterania atau Barat. Makanan tersebut diformulasikan untuk mencerminkan pola makan manusia, dengan protein dan lemak yang berasal dari sumber hewani di kelompok Barat dan sumber tumbuhan di kelompok Mediterania. (Baca juga: Hari Ini Rilis Album BE, BTS Raih 200 Juta Views untuk "Black Swan" )
Dilansir Medical Xpress, untuk menentukan efek diet terhadap respons stres, para ilmuwan mengukur perubahan dalam sistem saraf simpatis dan parasimpatis dan hormon kortisol kelenjar adrenal, sebagai respons terhadap stres akut dan kronis.
Sistem saraf simpatis terlibat dalam respons lawan atau lari dan mengatur fungsi tubuh seperti detak jantung dan tekanan darah. Sistem saraf parasimpatis memiliki efek berlawanan yang membantu tubuh kembali ke keadaan lebih tenang. Aktivitas sistem saraf simpatis yang tinggi bisa berbahaya bagi kesehatan, jadi menjaga keseimbangan yang sehat antara kedua sistem itu penting.
Kortisol, hormon stres utama tubuh, membantu tubuh mengakses sumber daya yang dibutuhkan untuk melawan atau melarikan diri. Namun, jika stres berlanjut, kadar kortisol tetap tinggi dan merusak jaringan.
Para peneliti mempelajari efek stres kronis dari status sosial yang rendah dan stres akut karena terisolasi secara sosial selama 30 menit pada 38 hewan paruh baya yang diberi makan makanan Mediterania atau Barat. Makanan tersebut diformulasikan untuk mencerminkan pola makan manusia, dengan protein dan lemak yang berasal dari sumber hewani di kelompok Barat dan sumber tumbuhan di kelompok Mediterania. (Baca juga: Hari Ini Rilis Album BE, BTS Raih 200 Juta Views untuk "Black Swan" )
Dilansir Medical Xpress, untuk menentukan efek diet terhadap respons stres, para ilmuwan mengukur perubahan dalam sistem saraf simpatis dan parasimpatis dan hormon kortisol kelenjar adrenal, sebagai respons terhadap stres akut dan kronis.
Sistem saraf simpatis terlibat dalam respons lawan atau lari dan mengatur fungsi tubuh seperti detak jantung dan tekanan darah. Sistem saraf parasimpatis memiliki efek berlawanan yang membantu tubuh kembali ke keadaan lebih tenang. Aktivitas sistem saraf simpatis yang tinggi bisa berbahaya bagi kesehatan, jadi menjaga keseimbangan yang sehat antara kedua sistem itu penting.
Kortisol, hormon stres utama tubuh, membantu tubuh mengakses sumber daya yang dibutuhkan untuk melawan atau melarikan diri. Namun, jika stres berlanjut, kadar kortisol tetap tinggi dan merusak jaringan.
Lihat Juga :