Sering Beser dan Ngompol Malam Hari? Mungkin Ini Sebabnya!
Senin, 28 Desember 2020 - 12:20 WIB
Sementara itu dr. Harrina Erlianti Rahardjo, SpU (K), PhD, Ketua Indonesian Society of Female and Functional Urology (INASFFU) membeberkan studi prevalensi dan faktor risiko nokturia di Indonesia yang melibatkan 1555 subyek dari 7 kota di Indonesia.
Hasilnya menunjukkan, prevalensi nokturia sebesar 61,4%, dimana dari total prevalensi nokturia tersebut 61,4% dilaporkan pada laki-laki dan 38.6% pada perempuan.
Baca juga : Waspada! Pandemi Membuat Angka Stunting Terus Bertambah
Rerata usia pada penelitian tersebut adalah 57 (18-92) tahun. “Nokturia didapatkan terbanyak pada kelompok umur 55-65 tahun,” ujar dr. Harrina. Ia melanjutkan, berbagai hal seperti kelainan saluran kemih bagian bawah, gangguan ginjal, hormonal, tidur, jantung dan pembuluh darah, psikologis dan diet dapat menjadi penyebabnya.
Menurut dr. Harrina, penderita nokturia dapat melakukan intervensi gaya hidup. Yakni dengan pembatasan asupan garam, protein dan kalori untuk pencegahan terhadap obesitas dan diabetes serta membatasi asupan cairan di sore dan malam hari (terutama antara makan malam dan waktu tidur).
Hasilnya menunjukkan, prevalensi nokturia sebesar 61,4%, dimana dari total prevalensi nokturia tersebut 61,4% dilaporkan pada laki-laki dan 38.6% pada perempuan.
Baca juga : Waspada! Pandemi Membuat Angka Stunting Terus Bertambah
Rerata usia pada penelitian tersebut adalah 57 (18-92) tahun. “Nokturia didapatkan terbanyak pada kelompok umur 55-65 tahun,” ujar dr. Harrina. Ia melanjutkan, berbagai hal seperti kelainan saluran kemih bagian bawah, gangguan ginjal, hormonal, tidur, jantung dan pembuluh darah, psikologis dan diet dapat menjadi penyebabnya.
Menurut dr. Harrina, penderita nokturia dapat melakukan intervensi gaya hidup. Yakni dengan pembatasan asupan garam, protein dan kalori untuk pencegahan terhadap obesitas dan diabetes serta membatasi asupan cairan di sore dan malam hari (terutama antara makan malam dan waktu tidur).
Lihat Juga :