Menapaktilasi Perjalanan Pesinden Legendaris Mimi Marni
Minggu, 10 Januari 2021 - 03:31 WIB
"Tahun 1976 sudah mulai rekaman. Ada sekitar 27 kali masuk dapur rekaman, dan juga punya album. Golet Pasangan dan Kiser Saedah adalah contoh kecil album Mimi yang keluar tahun 1977 dan 1978," papar Wina.
Seiring berjalannya waktu, nama Mimi Marni semakin dikenal kalangan luas. Tidak hanya di wilayah Ciayumajakuning saja. Dalam perjalanannya, Mimi juga pernah menginjakkan kaki di Sumatera, untuk perform di sana. "Di sana Mimi bersama grupnya tinggal selama 3 tahun, manggung dari satu tempat ke tempat lain. Mimi membentuk grup Warna Sari tahun 1976 yang kemudian diganti jadi Marni Grup pada 1982," kata dia.
"Nah, setelah ada Marni Grup ini, sudah mulai beragam. Ada tarlingan, dangdut dan bobodoran. Awalnya Mimi fokus di (jenis) Kliningan (sebagai Sinden). Untuk album pun beragam, bahkan ada yang musik qasidah. Namun kasetnya belum ketemu semua," lanjutnya.
Pentas di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, memiliki nilai tersendiri bagi seorang musisi. Mimi, selama perjalanan kariernya, sudah pernah menjajah tempat tersebut. "Sekitar tahun 1988, 2 kali Mimi pentas di sana," tandas Wina.
Perjalanan Mimi dari satu panggung ke panggung lainnya, berlangsung hingga sekitar 1998. Selain faktor usia, adanya regenerasi dari anak didiknya, membuat Mimi mulai kembali ke rumah. Tahun 2000-an, Mimi mulai fokus dengan kegiatan keagamaan. Mengikuti pengajian rutin, membaca buku-buku tema agama adalah kegiatan Mimi di masa senjanya.
"Bisa dikatakan puncak kejayaan Mimi itu dari 1983 sampai 1988. Mimi tutup usia pada 2012 lantaran sakit, meninggalkan seorang putri dan dua orang cucu," kata Wina.
"Sekarang bisa dikatakan tidak ada lagi regenerasi. Karena anak didik Mimi pun sekarang sudah sepuh, dan tidak ada penerusnya. Adapun dari keturunannya, tidak ada yang mengikuti jejak Mimi. Saya sendiri lebih ke seni rupa," ungkap Wina.
Seiring berjalannya waktu, nama Mimi Marni semakin dikenal kalangan luas. Tidak hanya di wilayah Ciayumajakuning saja. Dalam perjalanannya, Mimi juga pernah menginjakkan kaki di Sumatera, untuk perform di sana. "Di sana Mimi bersama grupnya tinggal selama 3 tahun, manggung dari satu tempat ke tempat lain. Mimi membentuk grup Warna Sari tahun 1976 yang kemudian diganti jadi Marni Grup pada 1982," kata dia.
"Nah, setelah ada Marni Grup ini, sudah mulai beragam. Ada tarlingan, dangdut dan bobodoran. Awalnya Mimi fokus di (jenis) Kliningan (sebagai Sinden). Untuk album pun beragam, bahkan ada yang musik qasidah. Namun kasetnya belum ketemu semua," lanjutnya.
Pentas di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, memiliki nilai tersendiri bagi seorang musisi. Mimi, selama perjalanan kariernya, sudah pernah menjajah tempat tersebut. "Sekitar tahun 1988, 2 kali Mimi pentas di sana," tandas Wina.
Perjalanan Mimi dari satu panggung ke panggung lainnya, berlangsung hingga sekitar 1998. Selain faktor usia, adanya regenerasi dari anak didiknya, membuat Mimi mulai kembali ke rumah. Tahun 2000-an, Mimi mulai fokus dengan kegiatan keagamaan. Mengikuti pengajian rutin, membaca buku-buku tema agama adalah kegiatan Mimi di masa senjanya.
"Bisa dikatakan puncak kejayaan Mimi itu dari 1983 sampai 1988. Mimi tutup usia pada 2012 lantaran sakit, meninggalkan seorang putri dan dua orang cucu," kata Wina.
"Sekarang bisa dikatakan tidak ada lagi regenerasi. Karena anak didik Mimi pun sekarang sudah sepuh, dan tidak ada penerusnya. Adapun dari keturunannya, tidak ada yang mengikuti jejak Mimi. Saya sendiri lebih ke seni rupa," ungkap Wina.
Lihat Juga :