Heboh Anjuran Menikah Muda, Perhatikan Dampak Buruknya
Jum'at, 12 Februari 2021 - 07:36 WIB
Di Tanah Air angka perkawinan usia anak di Indonesia cukup tinggi. Bahkan, Indonesia merupakan negara dengan angka perkawinan anak tertinggi ketujuh di dunia. Berdasarkan laporan UNICEF dan Badan Pusat Statistik (BPS) tercatat sekitar 1.000 anak perempuan menikah setiap hari.
Selain ekonomi, faktor pendidikan dan budaya merupakan penyebab terjadinya perkawinan anak di Indonesia. Tidak hanya di pedesaan, tren pernikahan anak juga marak di Ibu Kota.
Baca juga: Batal Nikah karena Tak Sepakat Mahar, Ayu Ting Ting: 'Jangan Ngarang'
Menurut dr. Julianto hal ini dikarenakan lemahnya perhatian kedua orangtua sehingga anak terjerumus dalam pergaulan bebas yang menyebabkan kehamilan hingga akhirnya keluarga memutuskan untuk menikahkan mereka.
Untuk diketahui, disamping berdampak buruk bagi anak perempuan, perkawinan anak juga berdampak buruk bagi masyarakat dan pemerintah. Perkawinan anak dapat menyebabkan siklus kemiskinan yang berkelanjutan, peningkatan buta huruf, kesehatan yang buruk kepada generasi yang akan datang, dan merampas produktivitas masyarakat yang lebih luas baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Kalau dibiarkan, hal ini akan berpengaruh pada bonus demografi usia produktif sehingga berdampak pada terhambatnya pertumbuhan sosial dan ekonomi.
Selain ekonomi, faktor pendidikan dan budaya merupakan penyebab terjadinya perkawinan anak di Indonesia. Tidak hanya di pedesaan, tren pernikahan anak juga marak di Ibu Kota.
Baca juga: Batal Nikah karena Tak Sepakat Mahar, Ayu Ting Ting: 'Jangan Ngarang'
Menurut dr. Julianto hal ini dikarenakan lemahnya perhatian kedua orangtua sehingga anak terjerumus dalam pergaulan bebas yang menyebabkan kehamilan hingga akhirnya keluarga memutuskan untuk menikahkan mereka.
Untuk diketahui, disamping berdampak buruk bagi anak perempuan, perkawinan anak juga berdampak buruk bagi masyarakat dan pemerintah. Perkawinan anak dapat menyebabkan siklus kemiskinan yang berkelanjutan, peningkatan buta huruf, kesehatan yang buruk kepada generasi yang akan datang, dan merampas produktivitas masyarakat yang lebih luas baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Kalau dibiarkan, hal ini akan berpengaruh pada bonus demografi usia produktif sehingga berdampak pada terhambatnya pertumbuhan sosial dan ekonomi.
(tdy)
Lihat Juga :