EPO Daewoong Infion Disebut Dapat Hemat Harga Obat Asuransi

Rabu, 03 Maret 2021 - 03:23 WIB
Jumlah pasien penyakit ginjal kronik domestik meningkat hingga 1,9 kali lipat dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Penyediaan EPO pada Program JKN akan meringankan beban keuangan pasien.

Industri biofarmasi saat ini perlu memperhatikan kebijakan Persyaratan Kandungan Lokal (LCR) yang diterbitkan pemerintah Indonesia. Kebijakan tersebut bertujuan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada bahan baku obat impor yang mencapai 90-95% dan mendorong produksi bahan baku hingga produk obat jadi secara mandiri.

Dukungan aktif dari pemerintah Indonesia mampu mendorong pertumbuhan pasar biosimilar yang merupakan penggerak pertumbuhan utama di dalam industri perawatan kesehatan secara global.

Menurut laporan McKinsey & Company, pasar biosimilar di Indonesia diperkirakan akan mengalami pertumbuhan rata-rata tahunan sebesar 10-15% pada 2025 dan merupakan tingkat pertumbuhan terbesar di Asia Tenggara. Pasar biosimilar dalam negeri mampu bertumbuh dengan signifikan karena mampu menyediakan berbagai pilihan pengobatan kepada pasien yang pada akhirnya mengurangi biaya pengobatan.

Berdasarkan survei Kementerian Kesehatan tahun 2018, prevalensi penyakit ginjal kronis di Indonesia mencapai 3,8 orang per satu juta penduduk. Angka ini meningkat dari 2,0 orang per juta penduduk pada tahun 2013, yang berarti 3.800 orang dari satu juta masyarakat Indonesia menderita penyakit ginjal kronik yang meningkat sekitar 1,9 kali lipat selama lima tahun.

Dengan meningkatnya jumlah pasien, biaya pengobatan menjadi masalah. Sekitar 60% pasien penyakit ginjal kronis membutuhkan cuci darah. Namun, biaya pengobatan untuk penyakit tersebut dapat mencapai Rp2,6 triliun dan merupakan biaya perawatan kesehatan tertinggi kedua dari semua penyakit di Indonesia setelah penyakit kardiovaskular.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!