Berdamai dengan Ginjal demi Kualitas Hidup

Kamis, 25 Maret 2021 - 19:56 WIB
Seiring berjalannya waktu, Anton mulai menerima kenyataan dan berdamai dengan penyakitnya. Dia tidak lagi merasa sedih atau kecewa dengan penyakitnya. Dia mengatakan, pasien gagal ginjal harus mampu mengatasi persoalan psikologis untuk bisa bangkit. “Saya merasa, momen kebangkitan saya adalah ketika saya mulai bisa berdamai dan ikhlas menerima sakit yang saya terima. Setelah itu, saya merasa lebih optimistis dalam menghadapi hidup,” ungkapnya. Baca juga: Waspada Gangguan Pendengaran Anak Hambat Perkembangan Bicara

Pada 2018 dia tidak lagi cuci darah, karena dia mendapatkan donor ginjal dari sang istri, Yuli Afiati. Dia menjalani operasi cangkok (transplantasi) ginjal pada Januari 2018 di RSCM Jakarta, ditangani Prof. Dr. dr. Endang Susalit. Operasi berjalan lancar dan berhasil. Kini, dia pun dapat menjalani hidup dengan normal setelah mendapatkan ginjal baru dari istrinya.

“Tapi saya tetap harus minum obat untuk menjaga kondisi ginjal. Saya merasa mendapatkan kesempatan hidup kedua (second life). Maka saya pun berusaha melakukan yang terbaik, berkarya, dan mewujudkan keinginan-keinginan yang sempat tertunda, seperti kuliah pascasarjana. Saya juga berhasil meraih Anugerah Jurnalistik Adinegoro pada 2019,” ceritanya.

Ketua Umum Perhimpunan Nefrologi Indonesia Aida Lydia juga menekankan upaya berdamai dengan penyakit ginjal demi mencapai hidup berkualitas. Sebab, beban akibat penyakit ginjal kronis (PGK) termasuk keluhan, komplikasi, dan pengobatannya, dapat menurunkan kualitas hidup tidak hanya pasien, tapi juga pendamping dan keluarga pasien.

“Umumnya pasien datang dalam kondisi sudah lanjut. Fungsi ginjalnya sudah sangat rendah dan telah terjadi komplikasi akut dari PGK itu, sehingga pilihan pengobatan yang ditawarkan juga terbatas,” ungkapnya.

Penurunan kualitas hidup pasien secara umum akan berdampak pada outcome klinis serta kepuasan pasien. Sayangnya , sepertiga pasien belum mengetahui benar penyakitnya.

“Untuk dapat hidup berkualitas dengan PGK, pasien harus tetap berperan dalam kehidupannya. Peran ini diartikan sebagai kemampuan terlibat dalam aktivitas. Di antaranya bekerja, belajar, bertanggung jawab kepada keluarga, bepergian, berolahraga, beraktivitas sosial dan berekreasi,” paparnya. Baca juga: Studi: Vaksin Covid-19 Sinovac Aman dan Picu Kekebalan

Selain itu, bagi yang menjalani hemodialisis alias cuci darah, pasien dan pendampingnya perlu memahami mengenai pembatasan asupan cairan dan diet, serta obat rutin yang dikonsumsi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!