Persiapan Hadapi New Normal, Ahli Sarankan Masyarakat Lakukan Ini
Rabu, 03 Juni 2020 - 16:31 WIB
"Misalkan tangga, eskalator, lift, dan handel pintu. Ada beberapa toilet, sudah didesain dari awal bahwa tidak ada handel di situ. Begitu juga dengan airnya. Paling tidak, tidak kontak dengan jari," ungkapnya.
Sementara untuk urusan sekolah, penting untuk membatasi jumlah siswa di dalam kelas dan menjaga jarak. Dalam hal ini, Prof. Ari mencontohkan, kelas yang biasanya berisikan 40 siswa dapat dikurangi menjadi 10 siswa. Kemudian, terapkan sistem belajar secara shift. Sedangkan penjelasan materi pembelajaran yang diberikan guru bisa dilakukan secara online.
"Dibuat shift pagi, sore, dan sekolah itu tujuannya untuk kegiatan yang tidak bisa secara daring. Misalkan praktikum kerja di laboratorium. Makanya, "New Normal" tidak seperti pendidikan dulu lagi. Guru di depan kelas menjelaskan, itu bukan di situ lagi. Melainkan bisa dilakukan secara online. Hanya untuk kepentingan praktik ke sekolah. Harus benar-benar dilakukan mitigasi yang baik terkait jumlah kasus yang meningkat," bebernya.
Pada dasarnya "New Normal" membuat masyarakat dihadapkan pada suatu kehidupan yang baru dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. (Baca Juga: Siloam Siap Uji Coba Terapi Plasma Pasien Covid-19 )
"Artinya apa? Ya harus pakai masker, physical distancing, penyediaan hand sanitizer, cuci tangan yang lengkap, dan juga untuk kepentingan physical distancing ini harus ada pembatasan, menjaga jarak. Tentu intinya adalah konsisten. Ada penegakan aturan," tandas Prof. Ari.
Sementara untuk urusan sekolah, penting untuk membatasi jumlah siswa di dalam kelas dan menjaga jarak. Dalam hal ini, Prof. Ari mencontohkan, kelas yang biasanya berisikan 40 siswa dapat dikurangi menjadi 10 siswa. Kemudian, terapkan sistem belajar secara shift. Sedangkan penjelasan materi pembelajaran yang diberikan guru bisa dilakukan secara online.
"Dibuat shift pagi, sore, dan sekolah itu tujuannya untuk kegiatan yang tidak bisa secara daring. Misalkan praktikum kerja di laboratorium. Makanya, "New Normal" tidak seperti pendidikan dulu lagi. Guru di depan kelas menjelaskan, itu bukan di situ lagi. Melainkan bisa dilakukan secara online. Hanya untuk kepentingan praktik ke sekolah. Harus benar-benar dilakukan mitigasi yang baik terkait jumlah kasus yang meningkat," bebernya.
Pada dasarnya "New Normal" membuat masyarakat dihadapkan pada suatu kehidupan yang baru dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. (Baca Juga: Siloam Siap Uji Coba Terapi Plasma Pasien Covid-19 )
"Artinya apa? Ya harus pakai masker, physical distancing, penyediaan hand sanitizer, cuci tangan yang lengkap, dan juga untuk kepentingan physical distancing ini harus ada pembatasan, menjaga jarak. Tentu intinya adalah konsisten. Ada penegakan aturan," tandas Prof. Ari.
(tsa)
Lihat Juga :