Perang Rusia dan Ukraina, Ini 3 Risiko Cedera Parah yang Terjadi
Selasa, 01 Maret 2022 - 14:53 WIB
3. Psikologis
Cedera terparah akibat perang terakhir adalah psikologis. Selain cedera secara fisik, kesehatan mental pun turut terganggu. Prajurit yang telah mengalami perang terkadang mengalami sindrom neuropsikiatri atau yang dikenal sebagai shell shock. Pertama kali dijelaskan oleh seorang dokter Inggris, Charles Myers, itu terdiri dari serangkaian gejala.
Sindrom neuropsikiatri ini termasuk gemetar tak terkendali, sakit kepala, pusing, ketidakmampuan untuk berkonsentrasi, kehilangan memori, kebingungan, dan gangguan tidur. Bahkan, beberapa pasien hampir tidak bisa berjalan, mengalami kelumpuhan sebagian, terbata-bata tak terkendali, hingga tidak dapat berbicara.
Gangguan yang kini dikenal sebagai Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) memiliki hubungan yang kuat dengan shell shock. Namun, ada banyak bukti bahwa penyakit seperti yang terlihat pada Perang Dunia I memiliki komponen neurologis yang kuat. Banyak dari pasien yang mungkin mengalami cedera otak traumatis, setidaknya sampai tingkat tertentu, serta PTSD.
Thomas W. Salmon, konsultan AEF di bidang psikiatri, merumuskan lima prinsip dalam pengobatan cedera ini, yakni kesegaran, kedekatan, harapan, kesederhanaan, serta sentralitas.
Baca Juga: Makanan Khas Rusia Tinggi Kolesterol, Enak tapi Jangan Dikonsumsi Berlebihan
Cedera terparah akibat perang terakhir adalah psikologis. Selain cedera secara fisik, kesehatan mental pun turut terganggu. Prajurit yang telah mengalami perang terkadang mengalami sindrom neuropsikiatri atau yang dikenal sebagai shell shock. Pertama kali dijelaskan oleh seorang dokter Inggris, Charles Myers, itu terdiri dari serangkaian gejala.
Sindrom neuropsikiatri ini termasuk gemetar tak terkendali, sakit kepala, pusing, ketidakmampuan untuk berkonsentrasi, kehilangan memori, kebingungan, dan gangguan tidur. Bahkan, beberapa pasien hampir tidak bisa berjalan, mengalami kelumpuhan sebagian, terbata-bata tak terkendali, hingga tidak dapat berbicara.
Gangguan yang kini dikenal sebagai Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) memiliki hubungan yang kuat dengan shell shock. Namun, ada banyak bukti bahwa penyakit seperti yang terlihat pada Perang Dunia I memiliki komponen neurologis yang kuat. Banyak dari pasien yang mungkin mengalami cedera otak traumatis, setidaknya sampai tingkat tertentu, serta PTSD.
Thomas W. Salmon, konsultan AEF di bidang psikiatri, merumuskan lima prinsip dalam pengobatan cedera ini, yakni kesegaran, kedekatan, harapan, kesederhanaan, serta sentralitas.
Baca Juga: Makanan Khas Rusia Tinggi Kolesterol, Enak tapi Jangan Dikonsumsi Berlebihan
(dra)
Lihat Juga :