Dipicu Unggahan Fauzi Baadila, Pemerhati Perempuan Minta Publik Buang Stigma Negatif Janda

Jum'at, 19 Juni 2020 - 10:30 WIB
"Sangat memprihatinkan jika seorang public figure menuliskan kalimat yang justru semakin menguatkan stigma negatif janda. Padahal janda hanya sebuah status yang bisa menimpa siapa saja seperti halnya duda," kata Myrna melalui keterangan tertulis. (Baca Juga: Anak Temperamen Berpotensi Tumbuhkan Kebiasaan Makan Tidak Sehat )

Myrna menambahkan, berdasarkan data di mesin pencarian Google, dalam waktu hanya 0,49 detik, ada 31.800.000 pencarian untuk kata "janda".

"Suatu angka pencarian yang fantastis sehingga membuat banyak artikel di media daring menggunakan kata "janda" sebagai judul artikel," lanjut Myrna.

Tak hanya itu, ujar Myrna, di dunia pemasaran juga banyak kata "janda" dipakai hanya untuk mendatangkan pelanggan dan mengundang rasa ingin tahu orang pada produk ataupun jasa tertentu. Seperti beberapa usaha kuliner yang menulis kata "janda" sebagai merek usaha, atau perusahaan properti yang pernah mencantumkan kata tersebut sebagai akronim hadiah-hadiah yang akan diberikan pengembang.

Lebih jauh Myrna mengatakan, kata "janda genit", "janda gatal", atau "janda perebut laki orang" hanyalah sebagian kata yang kerap kita dengar mengenai status janda. Padahal menurut Laporan Tahunan Mahkamah Agung (MA) 2019, terdapat 485.223 janda cerai baru. Hal ini berarti ada 485.223 janda yang bisa mendapat stigma negatif atas status baru mereka.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!