Cara Menghindari Depresi di Tengah Pandemi
Kamis, 25 Juni 2020 - 11:49 WIB
Menurutnya, agar terhindar dari stres dan emosi, masyarakat perlu melakukan beberapa hal. Di antaranya memilah media sosial atau informasi yang dapat menghindarkan kita dari stres dan emosi. "Kontrol emosi juga amat perlu, di mana kita akan menentukan sikap, apakah kita akan berdamai keadaan, atau melawan keadaan," ucap psikolog, penulis, dan content creator itu.
Ia juga menyoroti akibat dari tidak konsistennya antara kebijakan pemerintah dan fakta yang terjadi di lapangan sehingga memicu munculnya tagar Indonesia Terserah. "Kondisi ini membuat pengabdian tenaga kesehatan tidak berarti," kata Dinuriza. Jika situasi dirasakan di luar kontrol, ia menyarankan mencoba beberapa langkah.
Antara lain mengidentifikasi perasaan yang kita alami, kembali pada agama dengan pasrahkan semuanya kepada Tuhan, dan melakukan self terapi atau terapi dengan mengikhlaskan segala sesuatunya. Sebab bagaimanapun, dari kacamata sosiolog, manusia selalu mengalami tingkat risiko seperti bencana alam, polusi, penyakit yang baru ditemukan, kejahatan, teroris, dan lain-lainnya.
"Risiko pandemi Covid-19 adalah resiko antibias dan dapat memengaruhi semua orang, apa pun kelas Anda. Tidak ada yang bebas dari risiko ini, apa pun agama, suku dan jenis kelaminnya," ingat Dr Sawedi Muhammad SSos MSc. (Baca juga: Server Lemot Jadi Keluhan PDB Online Jalur Zonasi)
Pandemi juga tidak mengenal wilayah meskipun dimulai dari China karena besarnya arus traveling manusia. Virus ini menyebar ke Jepang, Korea Selatan, hingga Asia Tenggara dalam waktu hitungan jam saja. Bertahan di situasi seperti ini dengan tetap menjalankan protokol kesehatan adalah satu-satunya pilihan bagi masyarakat, dibarengi upaya mengelola stres dan emosi dengan baik. (Sri Noviarni)
Ia juga menyoroti akibat dari tidak konsistennya antara kebijakan pemerintah dan fakta yang terjadi di lapangan sehingga memicu munculnya tagar Indonesia Terserah. "Kondisi ini membuat pengabdian tenaga kesehatan tidak berarti," kata Dinuriza. Jika situasi dirasakan di luar kontrol, ia menyarankan mencoba beberapa langkah.
Antara lain mengidentifikasi perasaan yang kita alami, kembali pada agama dengan pasrahkan semuanya kepada Tuhan, dan melakukan self terapi atau terapi dengan mengikhlaskan segala sesuatunya. Sebab bagaimanapun, dari kacamata sosiolog, manusia selalu mengalami tingkat risiko seperti bencana alam, polusi, penyakit yang baru ditemukan, kejahatan, teroris, dan lain-lainnya.
"Risiko pandemi Covid-19 adalah resiko antibias dan dapat memengaruhi semua orang, apa pun kelas Anda. Tidak ada yang bebas dari risiko ini, apa pun agama, suku dan jenis kelaminnya," ingat Dr Sawedi Muhammad SSos MSc. (Baca juga: Server Lemot Jadi Keluhan PDB Online Jalur Zonasi)
Pandemi juga tidak mengenal wilayah meskipun dimulai dari China karena besarnya arus traveling manusia. Virus ini menyebar ke Jepang, Korea Selatan, hingga Asia Tenggara dalam waktu hitungan jam saja. Bertahan di situasi seperti ini dengan tetap menjalankan protokol kesehatan adalah satu-satunya pilihan bagi masyarakat, dibarengi upaya mengelola stres dan emosi dengan baik. (Sri Noviarni)
(ysw)
Lihat Juga :