3 Buku yang Sempat Dilarang Peredarannya di Dunia, Nomor 2 Sukses Terjual 80 Juta Eksemplar
Jum'at, 15 Juli 2022 - 23:51 WIB
Novel The Catcher in the Rye dinilai menceritakan nilai-nilai buruk kepada remaja. Terdapat adegan pembangkangan khas remaja, hingga menyebarkan ide komunis di Amerika Serikat yang ditakutkan akan memengaruhi remaja.
Novel karangan JD Salinger ini memang sempat dilarang peredarannya di AS dan sejumlah negara lain. Namun uniknya, novel ini masuk ke dalam salah satu buku yang paling banyak diajarkan di sekolah-sekolah AS.
Sejumlah pengamat mengatakan bahwa melarang remaja untuk membaca buku pemberontak ini malah membuat mereka akan mencari novel ini lagi.
2. The Da Vinci Code
(Foto: thegospelcoalition.org)
Dan Brown dan novel karangannya, The Da Vinci Code sempat dikritik sejumlah pemimpin Katolik. Bahkan, novel ini sempat dilarang beredar di Lebanon, Iran dan negara bagian Nagaland di India.
Tidak hanya buku, film yang mengadopsi jalan cerita The Da Vinci Code juga dilarang di Pakistan, beberapa negara bagian di India, dan Manila, yang merupakan ibu kota Filipina.
Pada 2004, The Da Vinci Code tidak boleh beredar di Lebanon karena novel ini menggambarkan penyelewengan keagamaan. Para pemimpin Katolik keberatan dengan penggambaran Yesus Kristus yang menikahi Maria Magdalena dan memiliki anak dengannya.
Novel karangan JD Salinger ini memang sempat dilarang peredarannya di AS dan sejumlah negara lain. Namun uniknya, novel ini masuk ke dalam salah satu buku yang paling banyak diajarkan di sekolah-sekolah AS.
Sejumlah pengamat mengatakan bahwa melarang remaja untuk membaca buku pemberontak ini malah membuat mereka akan mencari novel ini lagi.
2. The Da Vinci Code
(Foto: thegospelcoalition.org)
Dan Brown dan novel karangannya, The Da Vinci Code sempat dikritik sejumlah pemimpin Katolik. Bahkan, novel ini sempat dilarang beredar di Lebanon, Iran dan negara bagian Nagaland di India.
Tidak hanya buku, film yang mengadopsi jalan cerita The Da Vinci Code juga dilarang di Pakistan, beberapa negara bagian di India, dan Manila, yang merupakan ibu kota Filipina.
Pada 2004, The Da Vinci Code tidak boleh beredar di Lebanon karena novel ini menggambarkan penyelewengan keagamaan. Para pemimpin Katolik keberatan dengan penggambaran Yesus Kristus yang menikahi Maria Magdalena dan memiliki anak dengannya.
Lihat Juga :