Stres Bisa Memicu Gerd Kambuh, Bagaimana Menyiasatinya?

Senin, 29 Juni 2020 - 10:55 WIB
Kondisi tidak menentu ditambah kekhawatiran tertular Covid-19, dapat membuat seseorang mengalami stres dan memicu kekambuhan gerd. Foto/Istimewa
Kondisi tidak menentu ditambah kekhawatiran tertular Covid-19, dapat membuat seseorang mengalami stres dan memicu kekambuhan gerd. Bagaimana menyiasatinya?

Rasa panas di dada bahkan terkadang seperti tercekik disertai mulut pahit merupakan gejala utama gerd. Gastroesophageal reflux disease (gerd) adalah penyakit kronik pada sistem pencernaan. gerd terjadi ketika asam lambung naik kembali ke esofagus (kerongkongan). Hal ini dapat menyebabkan terjadinya iritasi pada esofagus.



Gerd beda dengan maag, jika maag terasa nyeri di ulu hati, sedangkan erd menyebabkan rasa panas di dada. Meski begitu seorang pasien bisa saja memiliki keluhan maag dan gerd sekaligus. Penderita gerd dengan komplikasi bahkan bisa mengalami gejala suara serak, sesak napas, gigi ngilu, dan disertai gangguan telinga berdengung. (Baca: 10 Aktivitas Paling Disukai Usir Bosan di Era New Normal)

Di masa pandemik ini, situasi yang ada serba tidak menentu yang berimbas salah satunya pada perekonomian. Belum lagi adanya kekhawatiran tertular Covid-19 yang menghantui masyarakat dan memicu stres. "Stres bisa memicu produksi asam lambung, seperti stres karena Covid-19. Termasuk pada pasien gangguan kecemasan yang bisa timbulkan peluang kekambuhan dan memperparah gejala gerd," kata Prof. Dr. dr. H. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP di Instagram Live @guesehat dengan tema Kenali Gerd di Era Covid-19 dan Bagaimana Menyiasatinya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!