Stres Bisa Memicu Gerd Kambuh, Bagaimana Menyiasatinya?
Senin, 29 Juni 2020 - 10:55 WIB
Dibenarkan dr. Jessica Florencia, fakta membuktikan stres berpengaruh terhadap produksi asam lambung. "Dibandingkan pria, wanita lebih mudah terkena stres. Maka tak heran penyakit maag lebih sering menyerang usia produktif yaitu 20-30 tahun dan lebih banyak diderita wanita ketimbang pria," kata dr. Jessica dalam kesempatan terpisah.
Kendati sama-sama merasakan ketidaknyamanan di dada, namun gerd berbeda dengan serangan jantung. GERD adalah penyakit menahun dan sudah berulang, sementara serangan jantung terjadi secara tiba-tiba. Ketika gerd kambuh, Prof. Ari mengatakan agar tidak cemas dan panik sebab cemas malah akan menambah produksi asam lambung meningkat. "Segera konsumsi Antasida (antacid) untuk menetralkan kadar asam di dalam lambung," saran spesialis penyakit dalam konsultan Hepatologi Gastro Entero ini. (Baca juga: Manfaat Tidur Siang Bisa Membantu Turunkan Berat Badan)
Asam lambung yang naik juga bisa membuat sesak napas atau terasa tercekik. Tapi tentunya berbeda dengan gejala Covid-19 yang diiringi dengan demam tinggi dan sesak napas. Dan gerd juga terjadi berulang. Penyakit ini erat kaitannya dengan gaya hidup. Selain stres, kebiasaan mengonsumsi makanan yang mengandung lemak seperti cokelat dan keju yang mengakibatkan pengosongan lambung menjadi terganggu.
Kebiasaan makan besar sesaat sebelum tidur di malam hari dan merokok. Karenanya Prof. Ari menyarankan untuk mengendalikan stres, mendekatkan diri kepada agama, menghindari makanan cokelat, keju, berlemak, asam, pedas, dan memberi jarak dua jam sehabis makan guna mencegah kambuhnya gerd.
Diagnosa penyakit ini bisa dilakukan lewat aplikasi GERDQ. Aplikasi ini berisikan kuesioner, yang dilengkapi oleh pasien dan dalam pengawasan dokter untuk identifikasi dan manajemen pasien dengan gerd. Kuesioner terdiri atas empat pertanyaan mengenai gejala, dan dua pertanyaan pada dampak yang dialami pasien.
Kendati sama-sama merasakan ketidaknyamanan di dada, namun gerd berbeda dengan serangan jantung. GERD adalah penyakit menahun dan sudah berulang, sementara serangan jantung terjadi secara tiba-tiba. Ketika gerd kambuh, Prof. Ari mengatakan agar tidak cemas dan panik sebab cemas malah akan menambah produksi asam lambung meningkat. "Segera konsumsi Antasida (antacid) untuk menetralkan kadar asam di dalam lambung," saran spesialis penyakit dalam konsultan Hepatologi Gastro Entero ini. (Baca juga: Manfaat Tidur Siang Bisa Membantu Turunkan Berat Badan)
Asam lambung yang naik juga bisa membuat sesak napas atau terasa tercekik. Tapi tentunya berbeda dengan gejala Covid-19 yang diiringi dengan demam tinggi dan sesak napas. Dan gerd juga terjadi berulang. Penyakit ini erat kaitannya dengan gaya hidup. Selain stres, kebiasaan mengonsumsi makanan yang mengandung lemak seperti cokelat dan keju yang mengakibatkan pengosongan lambung menjadi terganggu.
Kebiasaan makan besar sesaat sebelum tidur di malam hari dan merokok. Karenanya Prof. Ari menyarankan untuk mengendalikan stres, mendekatkan diri kepada agama, menghindari makanan cokelat, keju, berlemak, asam, pedas, dan memberi jarak dua jam sehabis makan guna mencegah kambuhnya gerd.
Diagnosa penyakit ini bisa dilakukan lewat aplikasi GERDQ. Aplikasi ini berisikan kuesioner, yang dilengkapi oleh pasien dan dalam pengawasan dokter untuk identifikasi dan manajemen pasien dengan gerd. Kuesioner terdiri atas empat pertanyaan mengenai gejala, dan dua pertanyaan pada dampak yang dialami pasien.
Lihat Juga :