Studi: Puasa Ramadhan Memperingan Keluhan Akibat Sakit Maag
Selasa, 28 April 2020 - 08:02 WIB
"Kami tidak melibatkan pasien wanita yang masih produktif (masih mengalami menstruasi). Pasien yang menjadi subyek ini telah dilakukan endoskopi saluran cerna dan sebagian besar memang pasien dengan NERD, yaitu suatu keadaan penyakit GERD yang tidak ditemukan luka pada klep antara kerongkongan dan lambung. Pada pasien yang menjadi subyek penelitian ini dilakukan pemeriksaan pada minggu ke-4 Ramadhan dan dibandingkan dengan tiga bulan setelah Ramadhan," beber Ari.
Hasil penelitian mendapati bahwa pada kelompok pasien yang berpuasa Ramadhan terdapat perubahan nilai GERD-Q (suatu parameter untuk menilai ringan buruknya GERD). Jumlah pasien yang mengalami perubahan sebanyak 55 pasien atau mencapai 85%. Bahkan sebanyak 23% perubahan GERD terjadi dalam rentang yang cukup besar.
Beberapa analisa lebih lanjut mengungkap, ternyata jumlah asupan rokok pasien selama berpuasa Ramadhan berkurang dibandingkan saat tidak berpuasa. Pengaruh selisih waktu antara makan terakhir dengan tidur tidak ditemukan pada kedua kelompok tersebut. Begitu pula tidak ada perbedaan dalam hal selisih waktu antara makan terakhir dengan tidur pada kelompok puasa dan tidak puasa.
Perbedaan perbaikan gejala klinis GERD ini lebih meyakinkan bahwa pasien dengan GERD tetap diperbolehkan berpuasa karena puasa Ramadhan akan memperbaiki gejala GERD mereka.
"Pada akhirnya penelitian ini berkesimpulan bahwa pasien GERD yang menjalani puasa Ramadhan keluhan GERD dirasakan lebih ringan saat berpuasa dibandingkan pada saat di luar puasa. Pasien GERD ini juga merasakan keluhan lebih ringan dibandingkan pasien GERD yang tidak berpuasa," pungkas Ari.
Hasil penelitian mendapati bahwa pada kelompok pasien yang berpuasa Ramadhan terdapat perubahan nilai GERD-Q (suatu parameter untuk menilai ringan buruknya GERD). Jumlah pasien yang mengalami perubahan sebanyak 55 pasien atau mencapai 85%. Bahkan sebanyak 23% perubahan GERD terjadi dalam rentang yang cukup besar.
Beberapa analisa lebih lanjut mengungkap, ternyata jumlah asupan rokok pasien selama berpuasa Ramadhan berkurang dibandingkan saat tidak berpuasa. Pengaruh selisih waktu antara makan terakhir dengan tidur tidak ditemukan pada kedua kelompok tersebut. Begitu pula tidak ada perbedaan dalam hal selisih waktu antara makan terakhir dengan tidur pada kelompok puasa dan tidak puasa.
Perbedaan perbaikan gejala klinis GERD ini lebih meyakinkan bahwa pasien dengan GERD tetap diperbolehkan berpuasa karena puasa Ramadhan akan memperbaiki gejala GERD mereka.
"Pada akhirnya penelitian ini berkesimpulan bahwa pasien GERD yang menjalani puasa Ramadhan keluhan GERD dirasakan lebih ringan saat berpuasa dibandingkan pada saat di luar puasa. Pasien GERD ini juga merasakan keluhan lebih ringan dibandingkan pasien GERD yang tidak berpuasa," pungkas Ari.
(tsa)
Lihat Juga :